🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
“Tenang saja. Aku dan ayahmu tidak apa-apa. Meski sempat mendapat tembakan bius. Tapi, itu tidak berbahaya.” Hunter memberitahu dengan jelas. Membuat Kaia akhirnya dapat menghela napas lega.
“Aku lega mendengar nya,” ucap Kaia. Mengulum bibirnya yang kecil. Kuat-kuat memegang ponsel.
“Bagaimana denganmu?” tanya Hunter.
“Aku juga. Aku baik-baik saja.” Kaia menegaskan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Kaia. Kenapa kau tidak mau bilang apapun padaku. Kau tahu, meski kau mengatakan bahwa kau baik-baik saja sekarang. Aku tidak mempercayaimu.”
Sebentar, Kaia terdiam untuk menarik napas panjang. Keningnya berkerut tipis. Meremas-remas tepi gaunnya. “Karena aku bisa mengatasinya sendiri. Jadi jangan khawatir.”
“Jadi, siapa pria yang ada di apartemen mu waktu itu? Kaia, apa kau benar-benar mencintaiku?” tanya Hunter memelas. Terdengar cukup ragu.
“Aku sedang tidak ingin membahasnya. Hunter, ada yang masih harus ku kerjakan. Aku pasti memberitahu mu, tapi, bukan sekarang. Nanti, saat semuanya benar-benar selesai.”
“Baiklah. Asal kau berjanji!” ucap Hunter. Mencoba memahami.
“I promise.”
“Kaia, I love you.... Aku sangat sangat merindukan mu.” Hunter hampir frustrasi.
“I love you too, Hunter.” ucap Kaia pelan-pelan dan lambat. Perempuan itu menutup mata, sekaligus menekan dada yang terasa sesak. Entah mengapa, rasa berdebar-debar itu terasa memudar. Kaia tidak yakin seperti biasanya. Hingga pandangannya sigap terangkat. Menoleh pada sumber suara di ujung lorong yang terdengar sayup.
“Francis,” ucap Kaia pelan. Segera menutup panggilannya. Dia menelan saliva, hingga terdengar degupan kencang dari tenggorokannya. Kaia mengambil langkah, untuk memeriksa. Hingga matanya yang biru itu bertemu. Saling bertatapan dalam-dalam.
Francis mendengus sebentar. Hanya mengamati Kaia sebentar. Lalu duduk berjongkok pada Sugar; karena kucing putih berbulu lebat itulah yang pertama kali menyambutnya pulang. Meski Sugar jelas-jelas tak bersahabat dan mendesis marah. Francis tidak gentar. Dia membuka sebuah plastik berisi daging, lalu menaruh benda itu ke atas tangannya.
“Makanlah! Ini hadiah untukmu,” kata Francis. Membuka lebar telapak tangannya.
Sugar mengeong pelan. Takut-takut. Kucing itu tahu, bahwa pria di depannya ini adalah orang yang pernah berniat membuang nya.
“Sugar tidak akan makan itu,” ucap Kaia, lekas mendekat untuk langsung menggendong hewan itu. Melangkah mundur dan membawa nya pergi.
Francis berdecak. Melempar makanan kucing itu keluar pintu. Lantas menoleh ke arah Vektor yang sejak lama menanti-nantinya dengan wajah kusut.