64 | Shoot Me!

3.9K 338 50
                                        

Hola, Mas Tantrum UPDATE

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola, Mas Tantrum UPDATE.
Tenang, chapter ini aman kok buat dibaca buat kalian yang masih puasa.

Happy reading ya. Komen yang banyak!!!

•••

Sudah berkali-kali, Kaia menelan ludahnya. Menatap Francis dengan napas terengah-engah, sungguh, ia tidak pernah terangsang hingga tubuhnya hampir mati membeku seperti sekarang. Tergeletak lemas tanpa tenaga. Pria itu membuatnya berfikir, bahwa seks adalah 'ritual' yang harus mereka kerjakan saat pertemuan. Tidak peduli seberapa lama pria itu di dalamnya, atau seberapa singkat Francis memeluknya, Kaia selalu mendambakan.

"Hazeline," mendadak. Ada suara yang mengganggu, begitu pilu dan sangat berat. Memaksa Kaia untuk menoleh, mengangkat kepalanya dengan benar. Dia tahu seruan itu; hanya Hunter yang memanggilnya begitu.

"Hunter," ucap Kaia, terkejut. Menarik selimut paling terdekat untuk menutupi cacat pada tubuhnya yang sudah basah dan penuh tanda.

Sementara itu Francis hanya tersenyum datar, dengan santai menarik diri untuk memasang dalamanya.

"Beginikah caramu untuk mengakhiri rencana pernikahan kita, yang hanya menunggu hari? Mengirimiku pesan, hanya untuk melihatmu mendesah hebat bersama bajingan ini?"

Kaia mengernyitkan alis. Memikirkan kata-kata pria tersebut. Dia bahkan tidak menyentuh ponselnya sejak siang tadi. "Hunter, aku... Aku...."

"Diam! Kau seharusnya tidak mengatakan apapun sekarang." Hunter menatapnya, berkaca-kaca. Lantas memperhatikan Francis yang sibuk sendiri untuk berpakaian. Dia tidak akan lupa senyuman itu. Sangat melukai hatinya.

"Bajingan!" Hunter murka. Mendadak mendatangi Francis dan menarik kerah pakaian pria itu dengan tangan kekarnya yang tebal.

"Singkirkan tangan mu!" ucap Francis penuh penekanan. Saling menemukan tatapan penuh persaingan.

"Kau lupa bahwa aku pernah menghajarmu?" tanya Hunter. Semakin kuat meremas kerah pakaian Francis.

"Kau hanya punya otot-otot tersebut. Tapi, pukulan mu itu tidak ada apa-apanya, dan yang paling penting bagiku sekarang adalah, kau tahu bahwa Kaia milikku. Hanya milikku!" Francis mempertegas. Membuat kedua belah mata Hunter membelalak sekarang. Merah menantang.

"Berengsek....." Hunter tercekat. Menahan napas. Bagaimana tidak, baru saja ia ingin memukuli Francis untuk memuaskan amarahnya. Francis lebih dulu mencekik lehernya. Menekan batang tenggorokannya keras-keras.

"Hentikan!" ucap Kaia penuh permintaan. Sudah memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya. Tapi, Hunter malah menoleh dengan marah ke arahnya.

"Kau pelacur!" kata Hunter, mengerahkan suaranya dalam-dalam. Lantas disusul pukulan dari Francis yang begitu keras hingga pria itu tersungkur jatuh.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang