🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola! KaiaFrancis UPDATE! Cus, komen yang rame dan vote yaa!!
Happy reading.
•••
Kaia sibuk, memotong-motong mawar-nya. Membantu menata bunga yang semakin bermekaran di taman. Warna-warni, menjadi kesatuan yang cantik. Sesekali, bibirnya merekah tersenyum lebar, melihat Sugar berguling-guling manja. Mengeong keras karena gangguan serangga.
"Di mana aku harus menaruh yang ini, Nona?" tanya Lia. Memeluk erat batang mawar yang panjang-panjang.
"Sisihkan di sana saja dulu, setelah itu masuklah! Kau belum istirahat sejak tadi," ucap Kaia.
"Aku tidak apa." Lia tersenyum.
"Kau tampaknya sangat bersemangat," kata Kaia.
"Ya. Merangkai bunga ternyata menyenangkan. Terima kasih karena sudah mau mengajariku. Apa kau juga mengajari anak-anak di panti untuk melakukan ini?" tanya Lia, datang mendekat.
"Ya. Aku mengajari mereka. Selain menciptakan keindahan, merangkai bunga merupakan cara terbaik untuk menenangkan pikiran, kan?"
"Anda benar. Aku tidak tahu, sejak kapan tuan muda ikut berminat dengan mawar sebanyak ini. Dulu, dia memelihara dua ekor babi dan Jaguar di Inggris."
"Babi?" Kaia nyaris tersenyum.
"Yes. Tapi, tuan Ron akhirnya memotong dan membakar kedua babinya untuk dijadikan santapan, tuan muda sangat terpukul waktu itu, dia mogok makan selama empat hari," kata Lia. Membuat Kaia terdiam tanpa reaksi. Dia menelan ludah. Mengingat-ingat peristiwa mengerikan yang terjadi minggu lalu. Bau darah dan kulit terbakar masih dapat dirasakannya jelas. Itu membuatnya mual.
Kaia mengerutkan kening. Bangkit dari tempatnya. Lalu bergeser menepi untuk memuntahkan isi perutnya. Dia sangat mual, berkat mendengar cerita Aelia.
"Nona, Kaia. Astaga. Apa yang terjadi?" Lia panik. Berusaha mendekat untuk menepuk-nepuk punggung perempuan itu. Memberinya sedikit air dan sapu tangan.
Kaia menghela napas panjang. Merasakan seluruh mulut yang begitu asam. Dia terduduk, lemas. Mengambil napas seperlunya.
"Anda tidak apa-apa?"
"Of course, don' t worry!" Kaia meyakinkan dengan napas terengah-engah.
"Anda harus kembali ke kamar. Saya akan menyelesaikannya nanti," sahut Lia. Melihat Kaia yang sudah lemas. Seingatnya, perempuan itu memang tidak terlalu sering menghabiskan makanan akhir-akhir ini.
***
Setelah mendapatkan kabar dari Aelia, Francis langsung berlari pulang meninggalkan proyek pembangunan cassino-nya. Tampilan pria itu sedikit berantakan. Jelas khawatir. Namun seketika, Francis mulai tenang setelah melihat Kaia tertidur bersama tumpukan buku-buku di tepi ruangan.