49 | Intruder

3.7K 294 78
                                        

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Cus, ramaikan, yaa! Komen banyak-banyak sesuai isi cerita

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola! Mas Tantrum UPDATE!
Cus, ramaikan, yaa!
Komen banyak-banyak sesuai isi cerita.

Happy reading!

•••


Kanopi jarum pinus terlihat lebat, menjulang tinggi layaknya penjaga, menghalang-halangi cahaya bulan. Pada tiap celah-celah kosong hutan belantara yang dingin, menyimpan misteri malam tak terpecahkan. Francis sudah di sana, bersama orang-orangnya untuk mengelabui pengawal. Menjatuhkan alat-alat berisi asap yang mengubah malam menjadi lebih pekat. Kabut itu perlahan-lahan menyebar, menciptakan suasana menegangkan.

Francis mendongak, saking angkuhnya. Berdiri mengamati dari kejauhan dengan sebatang rokok mentolnya. Orang-orang Decker itu perlahan-lahan jatuh, pasca menghisap bius asap yang menyebar tangguh. Francis baru bergerak mendekat, setelah Vektor memberinya signal. Dia tinggal melenggang. Bergerak melewati pintu yang telah dibobol.

"Silakan, Tuan. Kami akan berjaga di luar, dan saya akan memberi signal jika keadaan berubah," kata Vektor. Sekejap melihat mata Francis yang membara. Pria itu hanya menoleh sedikit. Sudah melangkah ke dalam ruangan. Segera, pria itu berjalan. Mengeksplorasi sekitar untuk menemukan burung kecilnya.

Vektor mundur. Menekan pintunya sedikit. Meski menimbulkan suara yang jelas-jelas mencurigakan, Francis nampaknya tidak terganggu. Dia fokus melangkah, mengikuti terowongan besar yang cukup panjang. Pandangannya penuh ambisi, sekaligus langkah yang dibawanya kini mewakili seluruh kerinduan. Hingga, kedua matanya yang gelap itu, akhirnya menemukan cahaya terangnya; wanitanya.

Kaia di sana. Menatap curiga dengan raut wajah cemas pada suara berisik yang menggangu kesunyian malamnya. Dia bergerak berputar, ingin mencari tahu. Namun, tubuhnya yang mungil itu terpaku. Dia mundur, terseok-seok kebelakang hingga menghantam tembok, karena Francis telah memenjarakan nya. Membungkam mulutnya kuat-kuat dan memeluknya dengan otot-otot gagah itu. Kaia mendongak, hanya sanggup menatap mata kelam itu. Tajam seperti belati yang siap menancap luka yang sudah tercipta.

"Aku merindukanmu, Burung kecil," kata Francis, memamerkan suara penuh hasrat dan berat. Membuat Kaia lebih terpana dari sebelumnya. Dia membelalak, kehilangan respons saat bibir mereka bersentuhan. Menyecap manisnya mulut perempuan itu dalam-dalam. Sengaja menyesakkan dadanya hingga lelah.

"Francis!" Kaia tiba-tiba menyerah, enggan bereaksi. Dia berusaha menarik diri, dengan napas yang masih terengah-engah. Lalu bergeser meninggalkan Francis. Kaia menelan ludahnya banyak-banyak, menahan diri, agar jantung nya berhenti berdebar-debar tanpa sebab.

"Kaia...."

"Stop! Stop approaching me." Kaia menoleh. Namun, lagi-lagi mata gelap itu memprovokasi.

Francis mendekat. Melangkah perlahan-lahan, dan penuh kendali.

"Ada banyak bodyguard di luar. Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Kaia sesak.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang