🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mas Tantrum DOUBLE UPDATE!!! Pokoknya, gamau tahu, komen yang rame di sini, yaa!
Happy reading.
••••
"Apa ada hari spesial yang kulewati, Mom?" Kaia menyapa dengan senyum yang lembut. Ikut meraih pisau untuk memotong-motong beberapa sayuran.
"Aku sudah bilang, malam ini, kita akan makan bersama." Treena mendengus. Menatap sebentar wajah putrinya penuh rencana..
"Tapi ini sepertinya berlebihan. Kita tidak akan bisa menghabiskan daging sebesar itu," kekeh Kaia. Menunjuk-nunjuk pada potongan daging yang tengah melewati proses penyerapan bumbu.
"Akan ada yang menghabiskan nya malam ini." Treena membalas tidak kalah. Hanya terkikik pelan tanpa penjelasan.
"Siapa yang mom undang ke sini? Hm?" Kaia mengulum bibir. Menatap penasaran. Dia mengangkut semangkuk wortel, memotongnya kecil seperti dadu.
Treena hanya mendengus. Tidak memberitahu, dia sudah yakin, bahwa putrinya maupun Conrad tidak akan setuju dengan kedatangan tamu undangannya malam ini. Itu sama saja dengan membawa musuh ke dalam. Akan tetapi, Treena lebih penasaran pada reaksi Kaia malam ini.
"Kau sebaiknya istirahat saja di kamar daripada banyak bertanya dan membuat mom tidak konsentrasi," tegur Treena, membuat Kaia segera mendelik.
"Aku sudah sangat bosan berada di kamar itu. Lagipula, mengganggu Mom seperti ini, lebih menyenangkan."
"Dasar anak nakal," kekeh Treena.
"Maaf nona, ada kiriman mawar untuk anda," seorang pelayan bergerak masuk. Menggendong sebuah bouquet yang sangat besar.
Kaia menelan saliva. Melirik sebentar ke arah Treena sambil meraih rangkaian bunga-bunga itu. Sangat besar, sampai-sampai Kaia kesulitan untuk menggendongnya.
"Oh. Putriku sekarang memiliki penggemar rahasia. Tidak banyak pria yang tahu bahwa kau suka mawar putih, kan? Katakan! Siapa yang mengirimnya?" tanya Treena, lantas mendekat.
"Entahlah, Mom. Aku tidak tahu." Kaia mengulum bibir. Menaruh mawar itu di tepi meja. Astaga, rasanya sangat berat. Hingga punggungnya terasa mau patah karena menggendongnya.
"Kau tidak ingin memberitahu. Bukan tidak tahu," balas Treena. Segera menjauh, sekadar untuk memberi putrinya ruang.
Kaia menghela napas. Menatap rangkaian bunga itu sebentar. Tidak ada kartu ucapan apapun di sana. Seakan-akan pengirimnya ingin ditebak. Tapi, Kaia sudah memikirkan satu nama, yang pasti akan melakukan hal seromantis ini padanya. Francis Ryan Roche, pria itu biasa memberinya mawar putih.
"Dari tunangan mu?" tanya Treena. Sekadar mencari tahu.
"Mungkin," balas Kaia. Melongos pelan. Dia ingin menggeleng kepala, memberitahu pada ibunya bahwa Hunter tidak pernah tertarik pada hal-hal yang menjadi favorit nya. Namun, Kaia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat nama tunangannya menjadi rusak. Terlebih dihadapan Treena.