71 | Magical

8.2K 321 53
                                        

Hola

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola. Mas Tantrum update!!
Cus, komen dan vote yang banyak!

Happy reading.

•••


Kaia tertidur, sangat lelap. Hingga bangun di tengah-tengah terik mentari yang menyengat. Sepanjang tidur, ia memimpikan Francis, merindukan pria tersebut hadir mendekat untuk memberinya ketenangan. Itu terjadi, seperti kenyataan. Francis sudah duduk di sisinya. Menatapnya kurang lebih lima belas menit. Pria itu menahan rasa sakit, untuk hadir di sana. Namun sedikitpun, Francis tak bergerak untuk membangunkan Kaia. Hingga saja, Kaia sendirilah yang tergerak bangun.

Kaia melonjak. Melebarkan bola mata, menatap Francis duduk di ujung kepalanya. Tersenyum cerah.

"Francis, kau sudah bangun? Bagaimana keadaan mu? Huh?" Kaia bergerak. Turut duduk, mengusap-usap wajah pria itu dengan telapak tangannya yang dingin.

Francis bungkam. Belum menjawab, sambil menarik salah satu alisnya.

"Wait. Siapa kau? Aku tidak mengenalimu," kata Francis. Membuat senyum di wajah Kaia menghilang.

"Kau tidak mengingatku? Bagaimana.... Tidak... Aku akan memanggil dokter lebih dulu." Kaia memucat. Segera bangkit dari tempatnya. Tapi, Francis menangkapnya. Menarik lengan perempuan itu keras-keras, hingga Kaia jatuh kembali di dekatnya.

"Siapa bilang aku tidak mengingatmu? Kau terlihat sangat cantik hari ini, burung kecilku. Hingga aku sulit untuk mengenalmu." Francis terkekeh. Puas hati, membuat Kaia panik. Perempuan itu tercekat. Terlihat marah.

"Kurang ajar sekali. Kau membuatku takut, Francis. Apa kau kira itu lucu?" Kaia berteriak. Mendorong dada Francis keras-keras.

"Kau marah? Maaf. Tapi, ekspresi mu sangat lucu. Apa kau pikir aku amnesia?" kekeh Francis. Masih mempermainkan perempuan itu.

"Diamlah! Aku sangat kesal padamu." Kaia berdecak. Ingin menjauh, namun Francis lagi-lagi menariknya. Kali ini menangkup wajah perempuan itu dan mencium bibirnya sedikit.

"Aku minta maaf. Sungguh!" Francis mengulum bibirnya. Benar-benar tulus kali ini.

"Kau tidak tahu rasanya ketakutan sepanjang malam, Francis, dan kau malah mempermainkan ku dengan lelucon kuno seperti itu."

"Aku tahu, tapi, bagaimana aku harus menembusnya agar kau memaafkanku?" tanya Francis.

Kaia mendelik. Menoleh dengan seksana. Raut wajahnya mendadak sedih sekarang. Dia terdiam, menggigit bibir, lantas, mendekati Francis dan memeluk pria itu dengan lekat.

"Aku merindukan mu. Aku takut, jika terjadi sesuatu padamu. Aku tidak ingin kau mati," kata Kaia jelas. Mulai menangis.

"Kemarilah, naik ke sini!" pinta Francis. Mengangkat Kaia kuat-kuat untuk duduk di atas pangkuannya.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang