37 | Deals, ambitions and passions

4.6K 319 88
                                        

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Cus, gas komen yang banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Cus, gas komen yang banyak. Btw, maaf banget yaa, kalau Shine sering nggak bisa reply komen kalian. Karena emang lagi lumauan sibuk. Tapi, Selalu ku baca untuk penyemangat, kok.

Happy reading.

•••

"Aku sangat ingin menembak kepalanya, saat tahu, bahwa dia hampir membunuhmu. Kenapa kau datang? Aku baru saja berniat mengunjungimu." Ron berdecak. Sekilas menatap Francis yang melangkah mendekat. Meski terlihat tampan seperti biasa, pria itu tidak dapat menyembunyikan kekacauan pada tatapannya.

"Aku dengar, kau akan mengangkat Benjamin, segera." Francis mengalihkan perhatian. Ikut membakar salah satu cerutu eksklusif milik Ron.

"Ya. Dia berjasa dalam sebuah misi. Kau pasti tahu, dia mendapatkan virus itu."

"Dan aku yakin, bahwa kau juga tahu bahwa Benjamin merebutnya dariku, atau mungkin, kau yang sengaja memintanya untuk mengambil virus itu dariku." Francis tersenyum. Membuat Ron terdiam. Dia menyadari, bahwa Francis cukup liar untuk membaca keadaan. Dia pintar.

"Kau benar. Tentang keduanya."

Sontak, Francis berdiri. Menggebrak meja di depan Ron. Raut wajahnya mencekam. Penuh amarah dan angkuh. "Kenapa kau selalu menghalanginku?"

"Karena kau lemah, seperti ibumu. Aku yakin, kau mungkin sudah jatuh cinta pada putri bajingan itu." Ron langsung tahu, waktu pandangannya bertemu. "Sudah aku katakan. Kau lemah, seperti...."

"Diam! Jangan sebut ibuku dengan mulutmu yang kotor! Aku tidak jatuh cinta pada wanita itu. Tidak sedikitpun." Francis segera menyanggah. Membuat Ron ragu akan pikirannya sendiri. Pria itu, tidak boleh tahu, atau Kaia akan menjadi salah satu korbannya.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita siapkan perempuan itu untuk menjadi salah satu persembahan?" Ron menguji. Membuat kedua kantung mata Francis menjadi tegas. "Aku butuh satu tumbal lagi."

"Silakan. Aku tidak peduli!" balas Francis tegas. Menatap Ron dengan napas terengah-engah.

"Francis kau harus bertunangan dengan Jasmins. Aku dan Oscar sudah mengatur rencana."

"Jangan berharap! Aku bukan Benjamin yang bisa kau kendalikan."

"Pikirkan ibumu. Aku bisa melakukan apapun padanya."

"Berengsek!" Francis mengumpat. Mencengkeram kerah pakaian Ron sekuat tenaga.

"Bersikaplah lebih baik, agar aku masih memiliki rasa kasihan pada wanita itu." Ron terkekeh. Menarik kedua tangan Francis dari lehernya.

"Kau adalah manusia paling menjijikkan. Kenapa. Kenapa aku harus menjadi putramu? Hah? Sungguh, setiap darah mu yang mengalir pada tubuhku, adalah hal yang paling mengerikan dalam hidupku. Jadi berhentilah! Berhenti merugikan orang lain!" Francis berkata sarkas. Namun tidak membuat Ron bergeming.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang