60 | Collapse of power

3.5K 303 192
                                        

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Gimana nih puasa kalian? Lancar? Semoga lanvar terus yaaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola! Mas Tantrum UPDATE!
Gimana nih puasa kalian? Lancar? Semoga lanvar terus yaaa.

Komen yang banyak, dan vote. Tenang aja, chapter ini aman dibaca kok. Happy reading.

••••

Sejujurnya, Treena sangat gugup waktu menerima panggilan dari Francis tadi pagi. Dia menelan ludah, melirik Conrad yang langsung menatapnya penasaran. Akan tetapi, perempuan itu tetap berusaha, mencoba berkomunikasi lebih intens. Treena mengatakan, bahwa ia akan melakukan apapun demi Kaia. Terlebih, Treena tahu, bagaimana kondisi perasaan mereka masing-masing. Astaga. Dia pernah diposisi Kaia, Dayana; adik tirinya juga demikian. Itu menang sulit.

Sekarang, Treena memasuki kamar milik Kaia lagi. Melihat putrinya masih lelap-lelapnya tertidur. Aneh memang, karena biasanya Kaia itu bangun sangat pagi, berolahraga atau sekadar melihat-lihat alam. Mereka memiliki taman di belakang sana, dan Kaia tidak merawatnya seperti biasa.

"Kaia sudah waktunya bangun. Ini sudah cukup siang!" Treena menyempatkan diri untuk melirik angka pada jam dinding kamar Kaia yang menunjukkan angka sepuluh. "Kaia. Aku memerlukan mu untuk berada di pekarangan! Sugar mengajak-acak bungaku."

"Nanti, aku akan membereskannya. Sekarang, aku masih malas." Kaia merengut. Memeluk bantal erat-erat dan bersembunyi di balik selimut putih tebalnya. Oh! Udara hari ini menang dingin.

"Aku hanya memberimu waktu sepuluh menit. Bangun, atau Mom akan membuang kucingmu!" ancam Treena. Kesal.

"Kau terdengar seperti Francis, Mom. Mengancamku untuk membuang Sugar." kikik Kaia, tersenyum lepas. Lantas, mengerjipkan mata lebar-lebar saat menyadari kalimatnya. Kenapa dia malah membicarakan pria itu. Kaia ingin membuangnya.

"Kau bahkan belum bisa berhenti menyebut namanya. Yakin, kau ingin melupakan nya dan menikah dengan Hunter?" Treena menyinggung. Sangat tidak ramah untuk Kaia yang malu-malu. Wajahnya merona.

"Jangan lupa, kalau dia punya tunangan yang cantik, Mom." Kaia menghela napas. Terdengar sangat marah dan cemburu.

"Ya. Kau benar. Dia punya tunangan yang cantik. Sangat sangat cantik." Treena menggoda. Hampir tertawa lepas.

Kaia terdiam. Menatapnya marah.

"Jangan terlalu tegang. Kau bilang bahwa kau akan melupakan nya. Mom punya cara untuk membantumu," ucap Treena. Melancarkan aksinya.

"Aku tidak tersedia untuk rencana apapun, Mom. Aku hanya ingin makan tidur."

"Sangat di sayangkan. Padahal, aku sedang bersemangat untuk menyewa villa besar untuk liburan keluarga."

"Saat ini, liburan keluarga bukanlah sesuatu yang menarik." Kaia menyeletuk.

"Kau harus terlihat bahagia, untuk memberi perhitungan pada Francis. Sebelum menikah, ada baiknya kita pergi bersama. Hitung-hitung untuk mengakhiri ketegangan. Lagipula, tempat ini sangat bangus."

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang