🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola. Mas Tantrum UPDATE! Awas, chapter ini agak sedikit panas. Happy reading. Pokoknya, komen yang rame, yaaa.
•••
Kaia sudah menunggu dengan gaun tidurnya. Berdiri menatap balkon yang tertutup rapat dengan kaca bening tebal. Siap memberi makan singa, yang selalu ingin memakan dirinya hidup-hidup. Dia terdiam, mendengar langkah kaki yang mendekat dari belakang tubuh. Aroma parfumnya sangat wangi, tercium menyengat, menekan batang tenggorokan.
Sebuah sentuhan datang. Menyeka kardigan sutranya hingga terlepas. Kaia dapat merasakan kain itu merosot jatuh ke lantai dari tubuhnya. Dia menutup mata, saking gugupnya. Ini adalah sentuhan pertama, yang dilakukan Francis selaku suaminya. Ya. Pria itu kini memiliki hak penuh untuk memenuhinya.
“Aku sangat bangga, karena memiliki mu, wife.” Francis berkata dalam. Suaranya begitu dekat dan serak, hingga Kaia harus meremas-remas ujung gaun terakhir yang masih melekat pada tubuhnya. Itu sangat tipis.
“Francis, kau harus pelan-pelan,” ucap Kaia lembut.
“I know, wife.” Lagi, Francis berbisik. Sungguh mengganggu. Kaia merasakan perutnya diputar-putar oleh sesuatu. Penuh dan menggelitik.
Francis mencumbunya, menaruh lidah yang begitu basah dan kasar pada leher perempuan itu, menggigit-gigit dengan lembut area telinganya.
“Francis....” Kaia frustrasi, ingin segera terisi. Dia merinding.
“Aku sangat menyukaimu, burung kecilku. Sangat!” ucap Francis. Memeluk Kaia rapat-rapat. Dalam sekejap memutar tubuh perempuan itu untuk menghadap ke arahnya. Mendorong Kaia menuju meja dan mendudukkannya di sana.
Kaia menghela napas. Sudah tahu kelakuan Francis. Mereka sama-sama tidak sabar untuk saling merasakan. Hingga secepat kilat, pria itu masuk, sudah di dalamnya.
“Oh. Jujur saja, kau sangat besar, Franc. Kau memenuhiku,” ucap Kaia datar, sambil mengerang kecil.
“Really?” tanya Francis. Menyeka rona kemerahan pada wajah perempuan itu.
“Ya.”
“Want me stop?” kekeh Francis.
“No, please, Fuck me!” kata Kaia dengan serak. Mendongak cukup tinggi, untuk merasakan Francis. Sesekali, dilihat milik mereka menyatu. Bahkan lewat pantulan cermin yang terlalu jelas. Francis bergerak, sengaja membuat Kaia dapat menyaksikannya, dan Kaia sangat suka pemandangan itu. Entahlah! Dia sangat cabul sekarang.
“Mulai sekarang, kau bisa memakannya kapan saja, Kaia.” Francis berbisik. Sengaja menggoda perempuan itu. Mengecup bibirnya sekali, dan mendorong miliknya lebih dalam, untuk membuat Kaia mengerang lebih keras.
***
Cambang di wajah Francis sudah lebih rapi, terlihat sangat bersih seakan-akan baru saja ditangani. Kulit putihnya yang bersih terlihat sangat kontras dibalik jaket hitam tebal itu. Aroma tubuhnya wangi, maskulin, seperti biasa. Jujur saja, dia benar-benar enak dipandang.