63 | A cunning plan

3.8K 317 141
                                        

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Chapter ini nggak aman dibaca saat puasa, yaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola! Mas Tantrum UPDATE!
Chapter ini nggak aman dibaca saat puasa, yaa. Happy reading.

•••


Hiruk pikuk, suara tawa terdengar sangat lepas. Memuja-muja perjamuan malam yang disiapkan Treena. Dipinggir dermaga kecil, orang-orang itu sudah berkumpul. Menghibur satu sama lain seperti biasa. Kaia juga di sana, turut memperhatikan, sesekali angkat bicara saat dibutuhkan.

Malam ini sangat cantik, dan untungnya tidak terlalu dingin. Padahal, perjamuan dilakukan terbuka. Menyatu dengan alam dan bau pinus yang khas. Sementara itu, di cakrawala sana ada bintang bertaburan, mendampingi bulan untuk menyinari gelapnya malam. Suara-suara lain, seperti mesin pemanggang daging turut berisik. Sambil menimbulkan aroma-aroma enak yang menjanjikan.

Kaia mengerling sebentar, memperhatikan dermaga yang memancarkan lampu-lampu pijar hangat keemasan. Airnya yang jernih, merefleksikan kedamaian. Kaia sudah sangat mantap, untuk melupakan Francis. Melepaskan seluruh perasaan yang terlanjut dalam. Dia akan membawa kandungannya jauh-jauh.

“Apapun yang kau pikirkan, sebaiknya diungkapkan,” ucap Atlas. Mencoba mendekat. Membuat Hunter yang melihat dari kejauhan, terdiam cemas.

“Aku hanya berpikir, cara untuk menaiki perahu itu,” ucap Kaia. Menoleh pada dua buah perahu yang berdandar pada sisi dermaga.

“Kau mau? Aku bisa menemani mu,” tawar Atlas.

Kaia melongos. Tersenyum manis. “Benarkan? Kau tahu cara menggunakannya?”

“Jangan meremehkan ku.”

“Kalau begitu, baiklah!” kata Kaia. Membuat Atlas bergerak lebih dulu menuju pelataran; tempat di mana perahu-perahu itu terikat. Kaia mengikuti langkahnya dengan penuh semangat.

Akan tetapi, Kaia terdiam kaku. Seketika mendengar gelak tawa garang yang mencoba memecah malam. Dia tidak salah dengar, Kaia tahu betul suara itu. Bahkan aroma parfumnya pun benar-benar mewakili orang yang tengah mengacak-acak akal pikirannya, Francis Roche. Maka dengan cepat, Kaia menoleh. Mencoba memastikan. 

“Kaia Decker. Itu kau, kan?” tanya Francis kaku. Tersenyum lebar-lebar hanya untuk mengejek Conrad.

Conrad bergeser. Mengambil langkah luas untuk berdiri di hadapan Kaia. Sengaja menutupi putrinya, sebagai bentuk perlindungan.

“Aku tidak menyangka, kita akan bertemu di sini, Kaia. Sangat kebetulan.” Francis terkekeh. Membuat Kaia mencoba mengintip pria itu lewat celah punggung Conrad yang tinggi. Dia sangat sesak, hampir menangis, menyaksikan pria itu berpegangan tangan mesra bersama Jasmins.

Pelan-pelan Kaia mundur, tidak memperhitungkan apapun. Hingga pangkal kakinya tidak lagi menemukan pijakan. Membuatnya hilang kendali. Kaia terpeleset, mendadak jatuh ke dalam air.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang