51 | Destruction

3.5K 333 293
                                        

Hola

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola. Mas Tantrum UPDATE.
Kalau chapter ini rame, aku update lagi besok. Karena di Wattpad, sekarang susah banget ketemu orang-orang yang mau menghargai. Sekadar komen atau vote juga enggan.

Happy reading, buat yang selalu vote dan komen. 🥰

••••

“Francis, bagaimana rasanya mengkhianati tunangan mu?”

Kaia menghela napas. Terbaring lemas sambil mendekap tubuhnya sendiri. Perpisahannya bersama Francis di penggalangan dana malam ini membuatnya cemas. Masalahnya, Kaia masih belum bisa melepaskan rasa mendebarkan sekaligus menyedihkan itu.

Francis tidak memberi jawaban atas pertanyaan itu. Dia hanya terdiam, dengan senyum smirk yang sudah familiar. Kaia frustrasi, karena Francis bisa terlihat biasa mendekati Jasmins, bahkan setelah mereka bercinta diam-diam di dalam toilet. Sudah jelas. Kaia tidak ingin lagi meragukan pendapatnya. Francis hanya menganggapnya pelacur, atau sekadar peliharaannya.

'Jadi, untuk apa dia menahan Francis dengan pertanyaan sebodoh itu?'

Kaia menghela napas panjang. Melihat kain panjang yang bergelantungan pada tepi jendela menari-nari kencang. Malam semakin larut, dan Kaia mulai mengantuk. Hari ini sudah cukup berat, terlebih, harus berpura-pura tenang di sisi Hunter. Menanggapi pengkhianat itu benar-benar membuatnya muak.

“Ternyata benar. Tidak ada pria yang bisa ku percaya di dunia ini.” Kaia berdecak. Sembari bergerak menuju jendela untuk menutup tirainya. Pekerjaannya masih banyak, minggu depan, anak-anak panti akan mulai menempati bangunan itu, akan lebih baik jika dia mengurus kepentingan tersebut. Apalagi, ada beberapa pendana yang akan membantu panti pasca penggalangan dana.

Namun, ditengah-tengah langkahnya yang serius. Kaia terhenti, mendengar suara benda jatuh yang sangat keras dan mengganggu. Dia mengerling, melangkah menuju pintu untuk memeriksa.

“Vesper?” teriak Kaia hati-hati. Menyebut salah satu bodyguard.

Sunyi, sepi. Tidak ada sedikitpun jawaban, yang membuatnya harus berpikir keras. Kaia cemas seketika, di tengah kabut malam dingin yang mencekam.

“Vesper? Kau di luar?” lagi, Kaia berusaha memanggil. Kali ini terdengar lebih kencang hingga tenggorokan nya sakit. Ada yang tidak beres. Biasanya, pria itu menyahut dengan cepat.

Kaia mundur, meraih pistol dari dalam nakas yang tersembunyi. Conrad yang membekalinya, sekadar untuk berjaga-jaga. Dia tidak tinggal diam, saat mendengar suara benda-benda berjatuhan diluar sana. Kaia bergerak memeriksa.

“Kenapa semuanya tiba-tiba mati?” Kaia membatin. Tidak melihat adanya tanda kehidupan. Seluruh listrik mati total, hingga seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Kaia menelan ludah, mulai sesak. Tetap mencari-cari bodyguard yang akan menjelaskan keadaan vila nya.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang