🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
“Aku kira kau pemilih makanan.” Treena akhirnya berkomentar. Memecah keheningan yang sudah tercipta sejak lama.
Francis mendelik. Menatap sekitar ruangan. Hunter dan Conrad, tidak sudah-sudah menatapnya penuh ancaman. “Aku memang pemilih. Sangat. Karena itu, aku menyingkirkan potongan-potongan ini,” ucap Francis.
“Kau tidak suka bacon?” tanya Treena.
“Dia tidak suka rasa asam, Mom. Saosnya sedikit asam.” Kaia menyahut jelas. Membuat banyak pasang mata menoleh ke arahnya.
“Kau masih ingat dengan jelas,” balas Francis. Membuat Hunter mendengus. Dia terlihat asing, seakan-akan Francislah tunangan perempuan itu.
Kaia menelan ludah. Langsung menutup mulutnya dengam rapat. Dia mendelik, hanya sebentar menatap pada Hunter. Pandangan pria itu terlalu marah.
“Kau sepertinya sangat menikmati malam ini, ya!” Conrad berdecak. Mengelap bibirnya dengan kain. Lalu menatap Francis lekat-lekat.
“Ya. Seperti yang anda lihat, Mr. Decker. Bagaimana perasaan mu?” tanya Francis. Menoleh seksama kearah pria itu. Dia menarik alis, sengaja memperingati tentang perjanjian rahasia mereka.
“Perasaanku? Perasaan yang mana lebih tepatnya?” Conrad berdecak.
“Perasaan mu yang hampir menjadi kakek. Aku hampir memberimu cucu. Sayangnya, Kaia kehilangan bayi itu,” kekeh Francis, sambil mengusap puncak kepala perempuan itu.
Kaia mengerling, lekas menepis. Dia marah, lalu melihat Hunter melempar sendok makanannya dan berdiri tegap.
“Aku harus pergi. Terima kasih karena sudah mengajakku makan malam di sini,” ucapnya dingin.
“Hunter!” Kaia memberi peringatan. Namun pria itu melengos pergi tanpa suara. Kaia bangkit, ikut meninggalkan meja makan. Bergerak mengejar. ”Hunter. Wait! Hunter!”
Francis mendongak. Mengusap bulu-bulu halus di wajahnya dengan angkuh. Dia tersenyum, merasa cukup bersenang-senang atas undangan yang diberikan Treena Decker.
“Aku ingin menelepon seseorang sebentar,” ucap Francis. Bergerak meninggalkan meja, sambil meraih ponsel dari dalam saku kemeja nya. Dia hanya beralasan, Francis tidak ingin melewatkan pertengkaran epic antara Kaia dan Hunter.
Treena hanya mengangguk. Lantas, menerima tatapan dingin yang tak semestinya dari Conrad.
“Apa yang sedang kau lakukan, Tree?” tanya pria itu datar.