🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola. Mas Tantrum UPDATE. Cus, ramaikan chapter ini dengan komen dan vote ya. Ngegas, biar cepat update-an nya lagi.
Happy reading.
•••
Kaya membeku. Tatapannya hampir tenang, dan dia sudah duduk di hadapan Conrad sejak sepuluh menit lalu. Menyerahkan beberapa benda yang dikirim oleh Francis bersama kucingnya.
"Dia mengancam mu dengan ini?" tanya Conrad. Melihat beberapa dokumen, foto dan sebuah rekaman pembunuhan yang dapat melibatkan nya.
Kaia mengangguk. Meremas-remas pakaiannya karena tegang. Sejujurnya, dia tidak mengerti, kenapa Francis akhirnya lebih memilih untuk menyerahkan bukti tersebut. Dokumen itu sangat penting, dan berarti bagi Conrad.
"Aku minta maaf." Conrad kembali bersuara. Kali ini jauh lebih serak dan dalam. Dia malu. Sangat mengecewakan. Ya. Mungkin inilah tujuan Francis, dia ingin Kaia kecewa lebih dalam pada Conrad.
"Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Aku sudah bicara dengan ibu," kata Kaia, tertunduk lesu. Memperhatikan Conrad dengan wajah yang masih saja pucat. Dia masih tampak sakit. Terlebih, tidak ada sedikitpun makeup yang menempel pada wajahnya itu.
"Aku harus, Kaia. Dad harus melakukannya, karena aku, karena masalalu ku, kau harus mengalami semua ini. Entah, apa yang harus aku lakukan untuk melindungi mu sekarang. Aku gagal!"
"No. No, Dad. Kau tidak gagal. Kau sudah melindungiku dengan baik. Hanya saja, mereka, keluarga biadab itu yang merusak nya." Kaia berdecak. Terdengar sangat sarkas. Tangannya terkepal, mencoba melampiaskan seluruh amarahnya.
Conrad menghela napas panjang, dengan hati-hati meraih salah satu tangan putrinya itu. Menggenggam rapat dan kuat, seolah perempuan itu adalah satu-satunya kekuatan. "Aku pasti akan memperbaikinya. Dad, akan berusaha melindungi mu lebih baik kali ini. I promise!"
Kaia terdiam. Hanya mengulum bibir. Dia segera mendekat, jatuh ke dalam pelukan Conrad yang sangat kuat dan hangat. Sudah sangat lama, dia membutuhkan itu. Pelukan Conrad, terasa seperti sayap-sayap besar yang melindungi, kadang-kadang rasanya sama seperti Francis.
***
Francis baru saja bangun, dan langsung menenggak sisa alkohol yang membuatnya mabuk semalam. Dia menarik napas, mengedarkan matanya dengan lebar untuk melihat sekitar. Ada banyak botol minuman, puntung rokok berserakan yang hampir membakar seprai, serta sedikit kokain yang menjadi pelarian terakhirnya, benda-benda itu memberikan ilusi kebahagiaan yang singkat namun menghancurkan.
Hal paling menyakitkan baginya sejak kepergian Kaia adalah, Francis harus kesepian. Bahwa tidak lagi ada mainannya. Bahwa tidak lagi ada suara-suara lembut yang mengganggu, bahwa tidak lagi tercium aroma wangi makanan yang dibuat perempuan itu, atau seseorang yang rela merawat taman mawar-mawar cantiknya, serta tidak lagi ada objek keindahan yang seringkali dia foto diam-diam, untuk memenuhi galeri ponselnya.