🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat malam, Mas Tantrum UPDATE Nih! Happy reading, dan jangan lupa komen yang banyak, yaa.
••
Kaia mendesah, menyambut Francis sambil menggigit bibir. Matanya menekuk sayu, sepenuhnya pasrah dan hilang akal. Francis sudah menguasai, mencumbu dalam-dalam hingga bibirnya terasa bengkak. Sungguh, ciuman itu semakin terasa agresif. Kaia sampai lupa, pada cincin yang melingkar pada jari manisnya. Milik Hunter, tunangannya.
"Kau sangat cantik, burung kecil." Francis biasa memuji. Mencoba membuat Kaia terkesan. Dia berdecak. Melahap puncak payudara perempuan itu seperti ingin menelannya.
Hm- Kaia bergumam. Hanya mengigit-gigit jarinya keras-keras. Astaga, seluruh tubuhnya sudah menegang. Siap menerima kepuasan. Dia menutup mata, menikmati tiap hisapan Francis yang sibuk menandai tubuhnya. Mencumbu, menjilat dan merangsang hingga lidahnya sampai pada bagian terendahnya. Oh! Kaia mengaduh, merasakan seluruh bulu halus di tubuhnya meremang. Kaia sudah sangat basah.
"Francis!" sebut Kaia. Menegakkan kepalanya ke atas, sambil meremas-remas rambut pria itu hingga berantakan. Lidahnya semakin masif, menekan serampangan pada titik pusat.
"Astaga. Aku tidak bisa berpikir. Ini sangat enak." Kaia membatin. Tidak dapat menahan erangan yang terdengar panjang. Suaranya begitu merdu. Indah layaknya kicauan burung, seperti yang dikatakan Francis.
Francis melirik sedikit. Tidak sedikitpun merasa jijik. Dia melahap kewanitaan Kaia dengan lapar, menghisap tiap-tiap cairan yang keluar, hingga Kaia terlihat lemas karena mengalami orgasme. Francis menarik salah satu alis. Bersimpuh dengan tegap, agar Kaia melihat otot-otot tubuhnya yang besar dan kuat. Dia tersenyum licik, mendapatkan burung kecil yang memang dirindukannya.
"Kaia, ini aku, Francis. Kau harus ingat rasanya." Francis berkata lewat suaranya yang jelas dan tegas.
Kaia menelan ludah. Entah kenapa dia mengangguk-angguk dengan patuh. Kaia lalu mengerutkan kening, menekan kepalanya ke ranjang saat merasakan kejantanan Francis mencoba merobek-robek miliknya. Dia menahan napas, menunggu hingga pria itu masuk sepenuhnya.
"Astaga, itu sangat penuh. Kenapa kau sangat besar, Franc!" dengus Kaia hampir kesal..
"Yah. Aku tahu kau sangat menyukai penisku, karena kau selalu mengunyah nya dengan baik," ucap Francis. Terkekeh rendah. Dia berdecak, merasakan Kaia mencengkeram kejantanannya sangat kuat. "Kau harus merenggangkan sedikit agar aku bisa bergerak, Kaia. Jangan telan seperti itu."
Kaia mendengus. Memikirkan kata-kata Francis. Dia mengulum bibir. Menatap Francis dengan ekspresi yang membuat pria itu menggila.
"Ck. Sial. Burung kecil ini ingin main-main denganku!" kata Francis. Mulai menggerakkan kejantanan nya yang sangat besar itu.
Kontan, Kaia melebarkan mata. Membelalak karena seluruh tubuhnya langsung mengeras. Astaga! Milik Francis mengabsen tiap dinding-dinging kewanitaannya, bergerak serampangan menggapai perut yang terasa mengganjal. Dia masuk, sangat dalam. Membuat Kaia tidak lagi bisa menahan desahan nya.