29 | Waterfall

5.5K 334 56
                                        

Hola! Mas Tantrum UPDATE! Cus, komen yang banyak dan vote juga untuk chapter ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola! Mas Tantrum UPDATE!
Cus, komen yang banyak dan vote juga untuk chapter ini.  😎

•••


Francis menempatkan pandangannya, tajam dan tepat. Mengikuti pergerakan Kaia yang mengabaikan kehadirannya. Pria itu mendengus, hampir bosan. Hingga ujung tembakaunya mulai hancur akibat terlalu banyak ia gunakan hanya untuk memukul tepi meja.

Sementara itu, Kaia tengah sibuk, membakar seloyang kue atas permintaan Francis sendiri. Pria itu sengaja membuatnya sibuk seharian ini. Berniat menggunakan Kaia untuk kepuasan lainnya. Oh! Rok pendek di atas lutut, dengan celemek hijau bergaris itu norak. Namun, entah kenapa, Kaia memakainya dengan bagus. Terlebih, kalung pinus pemberian Conrad sudah dikembalikan pada pemiliknya; diam-diam.

“Aku harap, kau tidak lupa menambahkan kismis,” ucap Francis, mulai mencari perhatian.

“Kau tahu jika kau memperhatikan ku sejak awal.” Kaia menyahut. Meraih buku catatan beserta ballpoint hitamnya untuk mencatat waktu pemanggangan.

“Sayangnya, aku tidak memperhatikan mu,” kata Francis berbohong. Tersenyum sedikit lepas sambil menenggak sodanya.

“Ya. Terserah kau saja,” ucap Kaia. Duduk manis di kursi. Satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk melepas penat. Dekat dengan Francis, namun, tidak terlalu rapat.

Francis berdeham rendah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Francis berdeham rendah. Masih berjuang untuk mendapatkan perhatian. Namun, perempuan itu diam. Memutuskan untuk fokus pada tulisan-tulisan di dalam catatannya.

Sialan! Francis menjadi marah sekarang. Hingga mengerahkan kedua tangannya untuk menarik kursi perempuan itu, agar Kaia segera berada di dekatnya. Menatapnya. Hanya padanya. Dia menarik buku catatan itu, dan melemparnya begitu saja. Kemudian menekan tengkuk perempuan itu agar dapat menemukan bibir mereka.

“Setelah kau meletakkan kue itu di dalam oven. Akan lebih baik jika kau duduk dipangkuanku, bukan sibuk dengan buku sialan itu, Kaia!” kata Francis cukup jelas. Menyaksikan napas Kaia yang terengah-engah akibat ciuman nya barusan.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang