70 | Sudden attack

3.3K 288 63
                                        

Sesuai janji, Mas Tantrum Update! Cus komen lagi, vote juga yaaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sesuai janji, Mas Tantrum Update!
Cus komen lagi, vote juga yaaa.

Happy reading.

***


Kaia terisak-isak lirih, cemas dan ketakutan. Sungguh, cengkeraman Benjamin sangat kuat. Menekan puncak lehernya hingga sesak. Dia mengulum bibir, sudah pasrah. Kaia menarik napas, mencoba tersenyum seakan-akan itu adalah perpisahan. Namun, Francis menatapnya, berlinang air mata. Kepanya masih sangat tegap, meski tubuhnya mulai melemah, ada peluru, bersarang di dalam. Itu pasti menyakitkan.

“Jika aku mati, kumohon, kau harus tetap hidup.” Kaia mengerang dengan suara yang bergetar. Membuat Benjamin menekan ujung pistol di tepi pelipis Kaia hingga berdarah.

“Berhenti. Aku mencoba murah hati padamu,” ucap Francis begitu parau. Bergeser sedikit, untuk menatap Benjamin dengan mata merah berkaca-kaca.

“Apa yang bisa kau lakukan sekarang, Francis? Kau tidak berdaya. Kita akan hancur bersama hari ini.” Benjamin menarik ujung bibirnya. Terkekeh ngeri. “Sudah tidak ada yang tersisa lagi di dalam hidupku sekarang, aku baru sadar, bahwa aku sudah tidak butuh Midnight lagi. Jadi, apapun yang kau janjikan padaku, itu tidak akan membuatku mundur.”

“Bagaimana dengan istrimu? Anak-anakmu? Hah? “Kau mengorbankan mereka karena ambisimu?”  tanya Francis sambil terbata-bata. Dia memegang dada, mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya.

“Francis.” Sementara Kaia, hanya memanggilnya berulang-ulang kali untuk menguatkan.

Benjamin mendengus. Menelan ludahnya kasar, dia juga sama, terluka, tersiksa dan rapuh. Benjamin menangis, menaruh jari pada ujung pelatuk pistol yang diarahkan pada Kaia. “Seperti yang pernah kau katakan padaku, kita tidak pantas bahagia. Kita tidak layak mendapatkan cinta, karena di dalam darah kita, mengalir sempurna darah seorang Roche. Oleh karena itu, mari kita akhiri semuanya hari ini.” 

Benjamin mengulum bibir, menarik sedikit napasnya. Dia gemetaran, siap menyambar tengkorak kepala Kaia dengan sisa pelurunya, dan melemparnya jatuh ke bawah dari balkon.

“Ucapkan selamat tinggal untuk suamimu, Kaia Decker.” Benjamin berdecak. Ingin segera menuntaskan misi.

Kaia terisak-isak, memperhatikan Francis yang rapuh. Pria itu tidak akan bisa menolongnya lagi. Orang-orang Benjamin, pasti akan langsung memberondong peluru ke arahnya, jika menembak.

“Aku mencintaimu, Francis. Sangat.” Kaia tercekat. Menarik napas panjang, lalu mengembusnya pelan-pelan. Dia berkedip sedikit, membaca pergerakan Benjamin yang menekan-nekan pelatuk di tepi pelipisnya. Dia sangat ragu.

Mendadak, Kaia bergerak, menyikut Benjamin sekuat tenaga hingga pistolnya bergeser. Benda itu meletus keras. Membuat Francis sigap mengangkat tangan, dan melepaskan tembakan ke arah pria itu tanpa ragu sedikitpun.

Overdose Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang