🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola. Mas Tantrum UPDATE! Makasih banyak, buat yang selalu rajin komen dan vote, yaa. Cus, chapter ini juga, komen, kalau rame aku update lagi besok.
Happy reading.
••••
Malam ini terlalu banyak bintang. Sibuk menyapa sepasang insan manusia yang sedang membingkai kenangan di tepian pantai. Sesekali, terdengar tawa menantang, melebur tegas di tengah-tengah pecahnya ombak yang membaur. Suara percikan api yang terus membakar kepingan kayu-kayu kering, turut menari-nari indah bersama semilir angin.
Francis bergidik, enggan melepaskan pandangan. Bersedekap diantara kerinduan serta kebahagiaan mendalam. Jangankan Kaia, bahkan Conrad yang setegas karang sekalipun mampu ia kalahkan. Dia tidak pernah tahu, bahwa hidupnya, akhirnya sudah sampai pada chapter ini. Babak yang seringkali ditakutkan oleh ayahnya, 'Cinta adalah awal kebodohan seorang manusia.' Itu ternyata tidak sepenuhnya benar.
“Jika sudah dingin, masuklah lebih dulu! Aku akan menyelesaikan nya. Tinggal sedikit lagi,” kata Francis. Mengikat ujung tenda yang dibangun tidak jauh-jauh dari api unggun.
Kaia mengulum bibir. Memperhatikan pria itu dalam-dalam. Sungguh, perasaan cintanya membara, tapi Kaia sulit mengatakannya.
“Kaia?” tegur Francis. Melihat Kaia tertegun.
“Ya. Aku akan masuk, meski tidak yakin dengan tendanya,” balas Kaia. Sengaja menyinggung.
“Sebaiknya, jangan meremehkan ku! Aku bahkan bisa menyusup dengan mudah ke dalam mansion mu. Ingat?” Francis mengulum senyum. Memukul batu besar pada pasak tenda untuk terakhir kalinya. Dalam sekali tekanan, benda itu sudah terpatri sangat kuat.
Kaia menelan ludah. Memperhatikan otot-otot perut yang bersembunyi dibalik kemeja putihnya. Rambut hitamnya yang kering kerontang, bergerak liar. Serta bibir merah tebalnya itu, benar-benar cocok dengan perpaduan suaranya yang dalam. Tampan, dia sangat tampan.
“Kaia, sayang, hey!” ucap Francis dengan lembut. Sudah menangkup wajah Kaia dengan kedua tangannya. Dia benar-benar merusak khayalan perempuan itu yang hampir sempurna.
“What? Kau bilang apa tadi?” Kaia menelan ludah. Malu, dengan wajah yang sudah merah.
“Kau pasti tidak sabar untuk pernikahan kita besok, kan? Hingga kau hanya memperhatikan wajahku sambil melamun seperti itu.” Francis menarik alisnya. Tidak ragu-ragu lagi mengecup bibir merah delima yang terasa manis.
“Kau sangat percaya diri.” Kaia berdecak. Lekas bangkit dari tempatnya untuk menjauh.
“Sampai kapan kau akan menahan diri, Kaia?” decak Francis dengan jelas. Kata-katanya sungguh mengganggu, penuh arti mendalam.
“What?” Kaia mengerutkan kening. Menatap kembali ke arah Francis.
“Sampai kapan, kau akan menahan perasaan mu terhadapku? Itu sudah terjadi, kan?”