🚩🚩🚩21+ | Dark romance, Angst, politic, manipulatif, grumpy, abusive, matured, Guilt Trip, revenge.
Menjadi tawanan, membuat Kaia terjebak di dalam sangkar emas. Tubuhnya dilecehkan sepenuhnya, dipaksa menikmati ketakutan dan penderitaan bertahun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mas Tantrum double Update!! Pokoknya kasih komen, karena cerita ini akan tamat beberapa Chapter lagi.
Happy reading!!!
•••
"Orang-orang itu sudah menunggu anda tuan muda," kata Vektor dengan resah. Sembari menatap Francis yang masih sibuk menatap tanah gersang yang terhampar luas dihadapan nya. Sejak meninggalkan lokasi penjara kemarin, dia mulai diam. Merapatkan diri untuk menghisap ganja sedikit, sekadar mengurangi pikiran. Kemecasannya meningkat, saat Kaia tidak benar-benar di sampingnya.
"Mereka semua sudah datang?" tanya Francis pelan.
"Ya, Tuan. Mereka semua." Vektor mengangguk.
"Aku akan menemui mereka dengan cepat, setelah itu, aku langsung pulang."
"Penerbangan anda sekitar enam jam lagi, Tuan. Masih ada banyak waktu," jelas Vektor, pasca melirik arloji pada pergelangan tangannya.
"Ya." Francis menjawab ringkas. Lantas mulai bergerak. Ia mengatur napas, melangkah dengan tegap. Ia memandang awas. Meneliti sekitar menuju sebuah lorong panjang yang tidak begitu luas.
"Lewat sini, Tuan." Vektor ikut mengamati. Menarik sebuah pintu yang lumayan tinggi dan besar, tersembunyi, pada sebuah tembok.
Francis melirik sebentar. Diam-diam merasakan pistol di balik punggungnya, tertutup rapat oleh suit hitam yang hangat. Dia masuk, menarik perhatian orang-orang di dalam sana. Ini canggung, sekaligus menegangkan. Lampu-lampu besar dibiarkan mati, menyisakan cahaya yang sangat-sangat redup. Francis bungkam, enggan mempermasalahkan, dia tahu, bahwa orang-orang ini pasti tidak ingin saling terlihat.
"Selamat malam," ucap Francis, mulai menyapa. Memperhatikan seluruh ruangan. Berdiri gagah diantara orang-orang asing itu.
"Kami tidak memerlukan sambutan formal," sahut seorang pria, yang berdiri di ujung koridor. Memegangi gelas berisi minuman. Tersenyum kaku.
"Aku tahu, aku hanya ingin menyapa," balas Francis. Tidak ingin tempatnya didominasi. Ia melirik, tajam. Memperhatikan pria tersebut. Itu salah satu putra Presiden Rusia, Kosovo Romanov.
"Malam ini, ada beberapa hal penting yang harus kusampaikan, terkait kasus yang terjadi pada ayahku, Ron Roche. Dia ditangkap, dan sepertinya kalian sudah tahu." Francis mengulum bibir. Menyeka rasa manis yang menjalar hingga tenggorokan.
"Kau yang menjadi dalang penangkapannya untuk...."
"Kau harusnya mendengarkanku lebih dulu, Mr. Kosovo. Karena, jika kau tahu aku adalah dalang penangkapannya, kau juga pasti tahu, bahwa aku juga bisa menjadi dalang penangkapan terhadap kasusmu." Francis mengancam. Menatap lekat-lekat mata kehijauan itu.
Kosovo terdiam, mendengus pahit.
"Aku mengumpulkan semua orang di sini bukan untuk saling mengancam. Aku menginginkan proyek jangka panjang yang lebih menguntungkan." Francis bersuara keras.