Teenager

1.2K 169 16
                                        

Happy reading!!!!











Deva, tengah berkumpul dengan teman-temannya dari sekolah lain. Awal pertemuan mereka dimulai saat Deva, ikut bermain bola voli di taman kota.

Mereka berkumpul di warung belakang sekolah teman Deva. Mereka tengah menyusun strategi untuk melawan musuh bebuyutan SMK Bumi Nusa, tempat teman-teman Deva sekolah.

Ini bukan pertama kali Deva, ikut tawuran. Deva, sudah 2 kali mengikuti tawuran bersama teman-temannya dan sampai sekarang sang ayah belum mengetahuinya. Mungkin.

"Dev, nanti lu lawan Wawan, biar gue yang lawan Lukman." Ujar Gilang.

"Oke." Deva, memberikan jempolnya tanda sanggup.

Tawuran terjadi didekat taman kota, tempat yang sama saat dirinya terjebak ditengah tawuran saat kecil dulu bersama kakak terakhirnya.

Sesuai rencana, Deva, melawan orang yang bernama Wawan. Alasan tawuran terjadi karena salah satu siswa SMK Bumi Nusa dibully oleh siswa SMK negeri yang menjadi lawan tawuran kali ini.

Berbekal bela diri yang dipelajarinya sejak kecil dan boxing yang Matthias, ajarkan. Deva, dengan mudah memukul lawan yang hanya menyerang dengan insting dan modal sering ikut tawuran.

"Kalau gak berantem jangan ikut tawuran dong." Ejek Deva, setelah melumpuhkan lawannya.

"You, fight me." Tunjuk Deva pada lawannya yang lain.

"Sok inggris lu." Kata orang yang ditunjuk Deva, lalu maju untuk menyerang.

Ditengah pertempuran itu, tiba-tiba polisi datang kemudian menangkap semua siswa yang terlibat yang berjumlah 36 siswa.

36 remaja itu dibawa ke kantor polisi untuk diberi teguran dan akan dibebaskan jika wali mereka datang untuk membebaskan mereka.

"Sebutkan nama, umur, asal sekolah, nomor telepon orang tua dan alamat rumah." Kata polisi yang duduk dihadapan komputer.

Mereka memberitahu data diri kepada polisi sesuai yang diminta. Saat giliran Deva, polisi itu dibuat heran sebab seragam Deva, yang berbeda sendiri dengan yang lain dan jika dilihat lagi penampilan Deva, bukan dari kalangan biasa. Polisi itu menggelengkan kepala dan berpikir, sudah diberi hidup enak malah cari masalah. Memang benar.

"Nama?"

"Devananta Auriga Manuella."

Saat mengetik nama panjang Deva, polisi itu dibuat gugup dan dalam pikirannya terus menyangkal sesuatu.

"Umur?"

"16 tahun."

"Asal sekolah?"

"Julius internasional school."

"Nomor telepon orang tua?"

"08xxxxxxxxxx"

"Alamat rumah?"

Deva menyebutkan alamat yang diminta petugas kepolisian. Sang petugas yang mengetik alamat tempat tinggal Deva, merasa ragu, apakah Deva jujur atau tidak ketika menyebutkan alamat rumahnya.

Polisi dan para remaja yang mendengar alamat rumah Deva, terkejut. Teman-teman Deva, hanya tahu dimana Deva, sekolah. Namun mereka tidak tahu jika Deva, tinggal disana sebab Deva, tidak pernah memberitahu.

Awalnya teman-teman Deva, skeptis saat mengetahui asal sekolahnya, mereka berpikir jika Deva, hanya anak orang kaya yang manja. Mereka berteman dengan Deva, setelah mereka tahu jika Deva tidak seburuk itu.

"Kamu dari sekolah elit, kenapa ikut-ikutan tawuran?" Tanya polisi itu tak habis pikir.

Deva, hanya tersenyum lebar tanpa menjawab pertanyaan si polisi.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang