63. Drunk

1.4K 147 8
                                        

Taqaballahu minna waminkum🙏
Ini lebaran kedua kita ditemani Deva ya. Gak terasa Deva sudah sejauh ini.

Aku minta maaf sebesar-besarnya kalau ada balasan yang tidak berkenan dikalian, serta janji yang masih belum bisa aku tepati


Maaf kalau ada typo, karena gak aku baca lagi😁
Happy reading!!!!












Musik memekakkan telinga, penerangan remang-remang, tidak menyurutkan para pengunjung menggerakkan badannya mengikuti tempo musik. Diantaranya juga ada yang tengah menikmati minuman memabukkan, baik bersama teman atau membayar seseorang.

Diantara banyaknya pengunjung, kini salah satu keturunan Manuella turut hadir. Tempatnya duduk berhadapan langsung dengan bartender. Sudah lebih dari 3 jam ia berada ditempat itu, dan sudah menghabiskan 5 gelas minuman dengan kadar alkohol yang tinggi. Mata sayu dengan tatapan kosong pada gelas minumannya ia tunjukkan, membuat si bartender yang sudah mengenalnya merasakan perasaan keturunan Manuella tersebut.

"Sampai kau datang ketempat ini, pasti masalahmu sangat berat. Kau mau memberitahuku?" Tanya si bartender.

"Tidak juga, aku hanya merasa lelah." Ucapnya.

Si bartender tersenyum, seolah sudah memahaminya. Kemudian, sikunya bertumpu pada meja untuk menopang tubuhnya.

"Kita berteman bukan satu bulan, dua bulan, tuan muda Manuella, jadi aku tahu itu bukan jawaban sebenarnya."

Sebelum membalas ucapan si bartender, ia menghabiskan gelas keenam dalam sekali tegukan. Rasa panas pada tenggorokannya membuatnya seakan terbakar akibat kandungan alkohol.

"Sepertinya kau sangat memahamiku."

"Tentu saja, jika alasanmu hanya lelah, kau biasanya memanggilku untuk datang ke apartemenmu atau tiba-tiba datang ke rumahku untuk minum. Aku pun menyadari, akhir-akhir ini kau sudah jarang minum dan itupun hanya dua atau tiga kaleng bir. Apa alasannya?"

Alasan, ia tersenyum memikirkan apa alasan yang membuatnya jarang minum.

"Kau tersenyum?" Si bartender mendekat, memperhatikan wajah temannya dengan lekat. "Apa dia sangat spesial sampai kau bisa tersenyum seperti itu?".

"Iya, dia sangat spesial untukku. Berkatnya aku seperti menemukan kembali tujuan hidupku."

Si bartender semakin penasaran akan sosok wanita mana yang berhasil meluluhkan si tuan muda Manuella pendiam ini.

"Siapa dia, wanita mana yang berhasil membuat tuan muda ini bisa tersenyum bahagia?" Tanyanya berturut-turut.

Ekspresi dingin ia tunjukkan ketika dugaan si bartender itu salah.

"Dia adikku." Ucapnya datar.

"Eiii, mana mungkin. Jika karena adikmu, pasti kau sudah lama berhenti minum, bahkan mereka tau kebiasaanmu, Sandika." Bantah si bartender.

"Bukan mereka, dia adikku yang lain. Putra dari wanita yang sangat aku hormati. Wanita yang sudah seperti ibu kandungku, bahkan melebihi ibuku sendiri. Wanita yang  cintanya begitu besar. Dan wanita itu menghadirkan adik kecil yang begitu menggemaskan dengan segala tingkah lakunya, membuatku tidak ingin menunjukkan hal buruk dari diriku. Aku tidak ingin dia, sampai mencium bau  alkohol dariku." Ekspresi lunak Sandika, tunjukkan saat memikirkan ibu dan anak itu.

"Kalau begitu, apa alasanmu datang kesini stelah terakhir kali kau diseret oleh suami wanita itu?"

Untuk pertama kalinya Sandika datang ketempat hiburan malam adalah saat usianya 18 tahun. Sandika yang baru saja menggelar kelulusan sekolahnya, harus menerima kenyataan jika  mimpinya harus pupus. Mimpi yang selama tiga tahun Sandika persiapkan. Jika saja orang tuanya tidak memberi dirinya harapan, mungkin dirinya tidak akan terlalu kecewa atau bahkan tidak kecewa sama sekali.

The Real HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang