extra part 1

385 13 0
                                        

HAPPY READING

Tiga Belas Tahun Kemudian

Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar.

Rumah yang dulu penuh tangisan bayi kini dipenuhi suara notifikasi ponsel, tawa remaja, dan sesekali dentingan gitar dari kamar Ameera.

Ameera sudah berusia delapan belas tahun.

Rambutnya panjang, hitam, selalu terurai lembut di punggungnya. Wajahnya manis dengan sorot mata yang teduh. Ia tidak banyak bicara, tapi ketika berbicara, orang mendengarkan. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswi yang lembut, penurut, dan cerdas.

Guru-gurunya menyukainya.

Teman-temannya menghormatinya.

Ia tidak pernah memberi alasan bagi Bulan atau Gala untuk dipanggil ke sekolah.

Berbeda dengan adiknya.

Aluna.

Enam belas tahun.

Cantik dengan aura yang lebih tajam. Cara berdirinya tegak, tatapannya penuh keberanian. Dalam tiga tahun terakhir, ia sudah tiga kali mengganti warna rambut.

Pertama merah marun.
Lalu cokelat terang.
Sekarang bagian bawah rambutnya biru gelap.

Dan tiga kali itu pula Bulan dipanggil ke sekolah.

Bukan karena nilai buruk.

Bukan karena berkelahi.

Tapi karena "penampilan yang terlalu mencolok" dan "sikap yang terlalu berani".

Gala setiap kali mendengar telepon dari sekolah selalu menarik napas panjang.

"Kenapa sih harus warna biru?" gumamnya suatu malam.

Aluna hanya mengangkat bahu.
"Karena aku suka."

Gala memijat pelipisnya.

Di dalam dadanya, ada ketakutan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan keras-keras.

Ia punya dua anak perempuan.

Dan ia tahu betul seperti apa dunia remaja.

Ia tahu seperti apa dirinya dulu.

Ia tahu bagaimana ia pernah terlalu berani, terlalu spontan, terlalu yakin bahwa semua akan baik-baik saja.

Dan ketakutan terbesarnya sederhana-

Bagaimana kalau ada laki-laki lain yang bersikap seperti dirinya dulu... pada putri-putrinya?

Suatu sore, Gala berdiri di depan pagar rumah, memperhatikan Ameera berbicara dengan seorang teman laki-laki di depan rumah.

Laki-laki itu berdiri sopan. Jaraknya terjaga. Tangannya sibuk memegang helm.

Ameera tertawa kecil, rambut panjangnya bergerak tertiup angin.

Gala berdiri dengan tangan bersedekap.

Diam.

Mengamati.

Bulan keluar membawa dua gelas teh.

"Kamu lagi ngapain?"

"Lihat."

Bulan mengikuti arah pandangnya.

"Oh. Itu Kei."

Gala menoleh cepat.

"Kei?"

"Iya. Anaknya Kei."

Gala terdiam.

Waktu memang lucu.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang