Sixty Two

1K 27 0
                                        

Happy Reading

Pagi datang lebih cepat dari yang mereka sadari.

Cahaya matahari tipis menembus celah tirai kamar, membuat ruangan terasa hangat meski udara luar masih dingin.

Bulan terbangun lebih dulu.

Ia tidak langsung bangun, hanya membuka mata perlahan. Tangannya masih berada di dada Gala. Nafas mereka pelan, teratur.

Beberapa detik ia hanya diam.

Semalam terasa berbeda.

Bukan karena apa yang terjadi, tapi karena cara mereka menjalaninya.

Lebih dewasa. Lebih saling dengar.

Gala mulai bergerak pelan.

"Hm..." gumamnya, masih setengah sadar.

Bulan tersenyum kecil.
"Bangun."

Gala membuka mata perlahan.

"Kita masih di villa ya..."

"Iya."

Ia menarik Bulan sedikit lebih dekat.

"Semalam oke?"

Bulan mengangguk pelan.

"Oke."

"Beneran?"

"Iya."

Gala terlihat lega.

"Good. Aku takut kamu kepikiran lagi."

Bulan menggeleng.

"Nggak. Justru enak karena kamu nggak maksa."

Gala tersenyum kecil.

"Berarti aku lulus?"

"Lumayan."

Gala tertawa pelan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil berlari di luar kamar.

BRAK.

Seseorang menabrak pintu pelan.

"TANTEEEEEEEEEEEEEE!"

Dirga.

Bulan langsung tertawa kecil.

"Nah, itu dia."

Suara Langit terdengar dari luar.

"Dirga, pelan! Jangan ganggu om tante dulu!"

Gala berbisik pelan,
"Untung tadi malam kita kunci."

Bulan langsung menutup mulutnya menahan tawa.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara Dara memanggil.

"Ameera udah bangun nih!"

Refleks Bulan langsung duduk.

"Ya ampun, anakku."

Gala ikut bangun, rambutnya masih berantakan.

"Mood pagi gimana?"

Bulan menarik napas.

"Lumayan fresh."

"Remuk nggak?"

"Enggak. Kali ini nggak."

Gala tersenyum puas.

"Berarti teknik pelan efektif."

Bulan menepuk pelan bahunya.

"Kamu ini ya..."

Mereka akhirnya keluar kamar.

Di ruang tengah, Dirga sudah duduk sambil makan roti. Ameera digendong Mama dengan wajah masih setengah mengantuk.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang