HAPPY READING
Lima Tahun Kemudian
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi lagi.
Pagi selalu dimulai dengan suara kaki kecil berlarian, pintu kamar dibuka tanpa izin, dan teriakan rebutan remote TV.
Ameera sekarang sudah hampir masuk SD. Rambutnya sering dikuncir dua oleh Bulan setiap pagi, meski lima menit kemudian pasti sudah berantakan karena ia terlalu aktif.
Adiknya-Aluna-yang dulu datang sebagai "kejutan cepat", kini berusia empat tahun. Cerewet, manja, dan paling hobi menempel pada Gala.
Di sudut ruang tamu, ada mainan berserakan. Ada papan tulis kecil penuh coretan huruf. Ada foto keluarga besar yang terpajang di dinding-foto yang diambil beberapa bulan setelah Aluna lahir.
Di foto itu, semua masih terlihat sedikit lelah.
Sekarang?
Lelahnya berbeda.
Lebih stabil.
Lebih terbiasa.
Bulan berdiri di dapur, mengawasi susu yang hampir mendidih sambil sesekali melirik ke arah dua anaknya yang sedang berdebat.
"Remote itu punya aku!" teriak Ameera.
"Enggak! Aku duluan!" balas Aluna.
Gala keluar dari kamar dengan rambut masih sedikit basah.
"Apa lagi ini pagi-pagi?"
"Perang dunia," jawab Bulan datar.
Gala menghampiri anak-anaknya, berjongkok sejajar.
"Negosiasi. Satu nonton kartun sepuluh menit, habis itu gantian."
Ameera mengerutkan dahi.
"Beneran sepuluh menit?"
"Bener."
Aluna langsung mengangguk cepat.
Bulan memperhatikan dari dapur.
Ia tersenyum tipis.
Lima tahun lalu, ia meratapi dirinya di tepi kasur karena merasa hidupnya terlalu cepat.
Sekarang, ia bahkan tidak sempat meratapi apa pun.
Karena hidup terlalu sibuk untuk disesali.
Hubungan mereka juga berubah.
Bukan lagi fase penuh gejolak.
Bukan lagi fase penuh kejutan.
Tapi fase kerja sama.
Bulan yang dulu mudah panik, sekarang lebih tenang. Ia tahu tidak semua hal harus sempurna.
Gala yang dulu terlalu spontan, sekarang lebih terukur. Lebih banyak berpikir sebelum bertindak.
Mereka masih bercanda.
Masih saling menggoda.
Tapi ada kedewasaan yang tumbuh tanpa mereka sadari.
Suatu malam, setelah anak-anak tertidur, mereka duduk di teras rumah.
Angin malam berhembus pelan.
"Aku pernah stres banget waktu tahu hamil Aluna," kata Bulan tiba-tiba.
Gala tertawa kecil.
"Aku juga."
"Kamu kelihatan santai."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
