Sixty Five

749 16 0
                                        

HAPPY READING

Hari pernikahan Embun akhirnya tiba.

Rumah orang tua mereka sejak pagi sudah dipenuhi aroma masakan, suara langkah kaki, dan tawa yang bercampur tegang. Gaun putih tergantung rapi di kamar. Makeup artist mondar-mandir. Anak-anak berlarian tanpa benar-benar paham betapa pentingnya hari itu.

Embun duduk di depan cermin, wajahnya lebih tenang dari yang semua orang kira.

Bulan berdiri di belakangnya, memperhatikan.

"Bontot," ucapnya pelan.

Embun menoleh lewat pantulan cermin.

"Kenapa sih panggilannya masih bontot."

"Karena kamu memang bontot."

Mereka tertawa kecil.

Lima tahun lalu, Bulan berdiri dengan perut membuncit karena keadaan yang tak direncanakan. Hari itu ia penuh campur aduk-malu, takut, berusaha kuat.

Hari ini, ia berdiri sebagai kakak yang utuh. Tidak lagi merasa hidupnya terlalu cepat. Tidak lagi merasa dirinya "kesalahan".

Ia sudah berdamai.

Langit masuk ke kamar tanpa mengetuk.

"Sudah siap, calon istri orang?"

Embun memutar bola mata.

"Abang jangan bikin gugup."

Langit mendekat dan berdiri di sampingnya.

Dulu ia menikah karena dijodohkan. Banyak orang meragukan. Banyak yang berbisik.

Tapi sekarang? Ia ayah tiga anak. Suami yang belajar mencintai lewat proses.

Ia menepuk bahu Embun pelan.

"Kamu paling beruntung. Kamu pilih sendiri."

Embun tersenyum.

"Tapi Abang bahagia kan?"

Langit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum lebar.

Dan itu cukup.

Di ruang tamu, Mami duduk diam lebih lama dari biasanya.

Gaun kebaya yang ia pakai hari itu terasa berat-bukan karena kainnya, tapi karena kenangan yang menempel di dalamnya.

Ia melihat ke arah pintu.

Tiga anaknya.

Langit yang dulu keras kepala dan sering membantah.

Bulan yang dulu membuatnya menangis karena keputusan yang terburu-buru.

Embun yang dulu selalu tidur di sampingnya karena takut gelap.

Sekarang semuanya sudah punya rumah sendiri.

Sudah punya dunia sendiri.

Papi duduk di sampingnya.

"Kenapa diam?"

Mami tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.

"Aku cuma... nggak nyangka."

"Anak terakhir kita menikah."

"Iya."

Papi menggenggam tangannya.

"Kita pernah takut gagal."

Mami mengangguk pelan.

"Langit kita jodohkan. Bulan menikah karena keadaan. Embun... karena cinta."

Papi tersenyum lembut.

GALLANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang