HAPPY READING
Waktu tidak pernah benar-benar meminta izin.
Tiba-tiba saja Ameera sudah duduk di ruang tamu membawa map berisi formulir universitas. Rambut panjangnya masih terurai seperti biasa, tapi wajahnya kini lebih matang. Ada ketenangan yang dulu hanya samar, sekarang jelas terlihat.
Aluna berdiri di belakangnya, rambut birunya kini sudah berganti cokelat gelap. Katanya ingin "coba yang lebih dewasa". Tapi sorot matanya tetap sama-berani dan hidup.
Gala duduk di seberang mereka.
Map itu seperti simbol yang selama ini ia hindari.
"Jadi... serius mau daftar luar kota?" suaranya terdengar lebih berat dari yang ia maksudkan.
Ameera mengangguk pelan.
"Iya, Pa. Jurusannya bagus."
Gala menatap Bulan, mencari penguatan.
Bulan hanya tersenyum lembut.
"Dia sudah pikirkan matang-matang."
Gala mengangguk pelan, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang bergerak.
Takut.
Bukan takut pada jurusan.
Bukan takut pada kota baru.
Tapi takut pada dunia yang akan menyambut putrinya tanpa ia bisa mengawasi setiap langkah.
Malam itu, setelah anak-anak masuk kamar, Gala duduk lama di teras.
Bulan menyusul dengan dua cangkir teh.
"Masih berat?" tanyanya pelan.
"Dulu aku takut ada laki-laki yang kayak aku mendekati mereka," Gala mengaku.
"Sekarang aku takut dunia terlalu luas buat mereka."
Bulan duduk di sampingnya.
"Kita nggak bisa kecilkan dunia supaya mereka aman."
"Terus?"
"Kita besarkan keberanian mereka."
Hening.
Angin malam membawa aroma tanah basah.
"Kamu ingat nggak waktu kita panik dulu?" Bulan melanjutkan.
Gala tertawa kecil.
"Setiap hari."
"Kita pikir hidup selesai. Padahal itu baru mulai."
Gala menoleh pada istrinya.
"Kamu nggak pernah benar-benar takut?"
Bulan tersenyum tipis.
"Aku takut. Tapi aku percaya proses."
Hari keberangkatan Ameera tiba lebih cepat dari yang Gala kira.
Koper berdiri di dekat pintu.
Aluna berdiri menyandarkan tubuh ke dinding, berusaha terlihat biasa saja meski matanya sedikit merah.
"Jangan sok kuat," Ameera menggoda pelan.
Aluna mendengus.
"Siapa juga nangis."
Dirga datang membantu mengangkat koper ke mobil.
Salma memeluk Ameera lama.
Bintang berkomentar seperti biasa, mencoba mencairkan suasana.
Kei berdiri di samping Gala.
"Bro... sekarang lo ngerti perasaan orang tua dulu ya?"
Gala mengangguk pelan.
"Banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
