Salsa menatap kedua tangannya sendiri. Jemarinya masih saling menggenggam di atas pangkuan, tetapi kali ini tidak lagi sekadar karena gugup. Ada perasaan berat yang sejak tadi ia tahan di dalam dada, perasaan yang selama beberapa waktu terakhir ia simpan sendirian tanpa pernah benar-benar berani membaginya kepada Lian.
"Aku sayang sama Syabil. Banget. Kamu tau sendiri aku sayang sama dia." Salsa berhenti sejenak. Ia menarik napas pelan, tetapi napas itu justru terdengar bergetar ketika keluar dari bibirnya.
"Tapi setelah semua yang terjadi waktu aku hamil dan melahirkan dia..." Suaranya mulai bergetar. Salsa menelan ludah, berusaha mengendalikan emosinya yang perlahan mulai naik ke permukaan. "Aku masih takut, Yang."
Lian yang sejak tadi masih memegang obat tersebut perlahan menurunkan tangannya. Tatapannya tetap tertuju kepada Salsa. Ia tidak menyela. Untuk kali ini, Lian memilih diam dan membiarkan istrinya mengeluarkan semua yang selama ini mungkin terlalu sulit untuk diucapkan.
Salsa menarik napas lagi. "Aku belum siap ngalamin semuanya lagi," lanjutnya dengan suara yang semakin pelan. "Aku belum siap hamil lagi. Belum siap kalau harus melewati masa-masa itu sekali lagi."
Lian masih diam. Ia hanya memandangi Salsa, sementara perempuan itu berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan.
"Aku tau harusnya aku ngomong sama kamu. Aku tau..." Salsa mengusap sudut matanya dengan jemari. "Tapi aku takut kalau aku bilang, kamu bakal menganggap aku nggak mau punya anak lagi sama kamu."
Lian menatap Salsa cukup lama. "Aku nggak pernah bilang begitu." Nada suaranya terdengar tenang.
Salsa mengangguk kecil. "Aku tau."
"Terus kenapa kamu takut?" tanya Lian. "Kenapa nyembunyiin dari aku?"
Salsa kembali terdiam. Ia menundukkan kepalanya, seakan-akan pertanyaan itu menyentuh bagian dirinya yang paling ia hindari. "Karena aku takut kamu kecewa sama aku." Suara Salsa kembali bergetar. "Aku takut kamu berpikir aku egois karena cuma mikirin diriku sendiri."
Ia menunduk semakin dalam. "Padahal bukan berarti aku nggak mau punya anak lagi sama kamu. Aku cuma... belum sekarang." Kalimat terakhir itu keluar begitu pelan. Namun, Lian tetap mendengarnya dengan jelas.
Salsa mengusap kedua tangannya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca. "Mungkin selama ini aku kelihatan baik-baik aja, bisa ketawa, bisa ngurus Syabil, bisa bercanda sama kamu. Tapi bukan berarti aku udah benar-benar lupa sama apa yang aku lewati waktu itu."
Salsa menarik napas panjang. "Kadang aku masih kepikiran dan masih takut."
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Lian tidak mengalihkan pandangannya. Ia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Salsa, termasuk bagian-bagian yang selama ini mungkin tidak pernah ia sadari.
"Aku bukan nggak mau punya anak lagi sama kamu," lanjut Salsa buru-buru sambil menggeleng. Seolah-olah ia takut Lian salah memahami ucapannya. "Aku mau."
Salsa menatap Lian. "Kalau suatu hari nanti aku sudah siap, aku juga pasti akan bilang sama kamu." Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Tapi sekarang aku masih pengen fokus sama Syabil dulu. Aku masih pengen menikmati dia sebagai bayi kita, tanpa harus membagi perhatian aku karena hamil lagi."
Lian menghela napas panjang. Tatapannya yang semula tajam perlahan melunak. Ada perubahan jelas pada wajahnya. Rasa kecewa yang sebelumnya sempat muncul tidak lagi mendominasi ekspresinya. Kini yang lebih terlihat justru pemahaman, meskipun masih ada kekhawatiran yang tersisa.
Lian kemudian mendekat sedikit kepada Salsa. "Sayang, dengerin aku."
Salsa perlahan mengangkat wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
