Asa tanpa keyakinan, akan berujung pada khayalan.
-•°•-
.
.
"Rey?!" Val memandang lelaki itu dari atas sampai bawah dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana tidak? Baju yang Rey gunakan, tidak asing lagi.
Ya! Ia menggunakan seragam dari sekolahnya.
Si pemilik nama, membalas dengan senyuman. "Hai, Nona Cantik!" sapanya sembari melambaikan tangan.
Sontak Val melempar jaketnya ke wajah lelaki itu--menutupi--dan menariknya dengan cepat.
"Val, lo mau bawa gue ke mana?" Rey dengan wajah yang masih tertutup hanya bisa mengikuti. Namun, tidak ada jawaban yang ia terima, sampai perempuan itu memaksanya untuk berhenti.
Tanpa meminta izin, dengan cepat dia membuka jaket yang menutupi wajahnya. Ketika matanya berhasil menyesuaikan cahaya yang masuk, Rey dapat melihat, bahwa mereka berdua kini berada di sudut pantai--kemungkinan orang melihat mereka sangat kecil.
"Kasar banget, sih, jadi cewek."
Tanpa diduga, Val menghadiahkan dengan sebuah jeweran. "Lo bilang apa?! Gue kasar?"
" ... emang gue kasar. Nih, lo rasain!" Tanpa ampun, dia semakin ganas menjewer si sumber kekesalan.
"E-eh, awww! Sakit tahu!" pekik Rey berusaha melepas amukan si gadis yang biasa dia sebut dengan Nona Cantik.
"Ampun, Val. Gue janji gak bakal bilang kayak gitu lagi." Dia menempelkan kedua telapak tangan memohon.
Val menatap lelaki itu. Hingga dalam sepuluh detik, dia mengabulkan permohonan tersebut.
"Jadi, lo ngapain ke sini?" tanyanya berusaha menjaga intonasi suara supaya lebih tenang.
Tidak menjawab, Rey malah mendaratkan bokong pada hamparan pasir putih. Sedangkan Val, hanya diam memperhatikan pergerakan lelaki itu.
Rey mendongakkan kepala--melihat Val yang masih berdiri.
"Lo ngapain di situ? Duduk sini." Rey menepuk pelan pasir yang ada di sebelah.
"Ogah."
"Katanya mau tahu kenapa gue di sini."
"Ngomong aja langsung, gak usah rempong kayak gitu." Val enggan melihatnya.
"Ya, udah. Kalau kayak gitu, gue teriak aja, supaya lo bisa dengar apa yang gue bilang."
Sontak Val melayangkan tatapan sinis. "Lo gak waras ya ...? Kita bisa ketahuan kalau lo berani berbuat gila kayak gitu."
"Lo lebih gak waras, masih mau ngeladenin orang gak waras kayak gue," balas Rey berhasil membuat sang gadis sekakmat. Dia benar-benar pintar dalam soal memojokkan.
Val menarik napas dalam--berusaha menahan luapan emosi.
Tanpa diduga, Rey menariknya paksa untuk turun. "Keras banget, sih, jadi cewek. Mungkin batu bisa pecah kalau ketemu hati kayak lo."
Val memilih pasrah.
"Kalau misalnya kita satu sekolah, lo mau menikmati perjalanan ini bareng gue?" Rey menatap lurus pemandangan indah di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYA, LO!
Teen Fiction#1 in teenfiction 26/12/19 #4 in asik 05/02/19 Amazing cover by @kimfina14 Aku bukanlah playgirl! Aku hanyalah perempuan yang bingung di zona cinta segitiga ini. (ᴖ◡ᴖ)♪ SAY HELLO TO BUCIN!!
