Berbuat baik, tidak butuh sebuah pengakuan.
-•°•-
.
.
.
Val berjalan memasuki sebuah lift. Untungnya kondisi lift sangat sepi. Sehingga tidak ada yang menyadari keberadaannya. Ketika pintu lift mulai tertutup, seseorang dengan cepat menahan pergerakan lift tersebut.
Namun, hal tersebut berhasil membuat Val membelalak tidak percaya.
"Ragi?"
Si pemilik nama, yang sebelumnya tidak menyadari keberadaan Val, sontak menoleh. "Maaf, apakah tadi Anda menyebut nama saya?"
Sontak Val mengernyit bingung. Kok Ragi ngomongnya kayak gitu, sih?
Val memilih melontarkan pertanyaan balik. "Maksudnya?"
Ragi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, tadi saya mendengar Anda menyebut nama saya. Dan saya sedikit ragu tentang Anda yang sebagai bintang idola," ujarnya sedikit malu.
Sontak Val merutuki kebodohannya. Dia baru menyadari susana sekarang. Saat ini dia sedang berpenampilan sebagai Val, bukan Rety. Wajar saja lelaki itu berujar demikian.
Val, cari alasan supaya, Ragi, gak curiga sama lo. Ayo, Val! Berpikir! Berpikir! batinnya.
Melihat wanita yang di sebelahnya hanya diam tanpa memberikan jawaban, Ragu melambaikan tangan tepat di depan wajah wanita itu. "Permisi, Anda tidak apa-apa?"
Seketika dia mengerjap, bersamaan dengan munculnya ide cemerlang. "Aku tahu siapa kau." Dia berusaha bersikap sesantai mungkin.
Ragi memandangnya dengan wajah berbinar. "Sungguh? Kau tahu dari mana?"
"Rety, anak dari menejer saya. Waktu itu dia sempat menceritakan tentangmu ke pada saya," terangnya penuh dusta.
Kalimat itu berhasil membuat si lelaki tersenyum lebar. Dia tidak percaya, memiliki teman sebaik Rety.
Dia berdeham, mengingat sebentar lagi lift akan terbuka. "Maaf, sebelum kita berpisah, apa saya bisa berfoto dengan Anda?"
Bukan Val namanya, kalau menolak kesempatan emas ini. Dia tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Boleh," ucapnya lembut. Padahal di dalam hati, ia ingin meloncat setinggi mungkin.
Ragi merogoh saku celana, dan mengambil ponsel. Sedikit ragu, dia merapatkan tubuh pada gadis itu, untuk menghasilkan gambar yang baik.
Tidak perlu menunggu lama untuk mengabadikan momen tersebut. Ragi pun menurunkan ponsel bersamaan dengan pintu lift yang telah terbuka.
Val tersenyum lembut. "Maaf ya, saya duluan," ucapnya yang kemudian pergi meninggalkan lelaki itu.
"Yes!!" girang Ragi tidak percaya.
-•°•-
.
.
.
TBC
Pengen next kilat?
Aku tunggu 50 vote 😆
KAMU SEDANG MEMBACA
IYA, LO!
Teen Fiction#1 in teenfiction 26/12/19 #4 in asik 05/02/19 Amazing cover by @kimfina14 Aku bukanlah playgirl! Aku hanyalah perempuan yang bingung di zona cinta segitiga ini. (ᴖ◡ᴖ)♪ SAY HELLO TO BUCIN!!
