Lubang Kebohongan (b)

1.6K 86 8
                                        

—•°•—
.
.
.

Aku menatap Bintang yang menghiasi malam. Indahnya malam, tidak dapat didustakan. Namun, si pemilik malam seperti mengerti sausana hatiku.

Kenapa kejadian tadi terus terngiang di kepalaku?

Ya, semua itu karena kebodohanku. Aku yakin, Ragi pasti sangat kecewa atas jawaban yang ia terima. Dan bodohnya, aku hanya diam atas semua itu.

"Val!"

Sontak aku mengerjap, dan mencari sumber suara. Dari seberang rumah, aku dapat melihat Rey--di jendela rumah. Dia seperti memberi isyarat, untuk segera mengecek ponsel. Dengan cepat aku melakukan titah tersebut. Dapat terlihat sebuah nomor tanpa nama. Paksaan dari Rey, membuatku harus menerima panggilan itu.

"Hallo, Nona Cantik." Dapat ditebak bahwa Rey si pemilik suara.

"Untuk apa lo nelepon gue? Rempong amat, sih."

"Gue mau ngomong sama lo, tapi di depan rumah gue ... lo lihat aja banyak wartawan."

Sontak aku mengalihkan pandangan ke tempat yang ia maksud. Benar, dengan apa yang dikatakan. Tanpa harus bertanya, aku pun mengerti alasan apa yang membuat hal itu terjadi.

"Apa yang membuatmu murung seperti itu, Nona Cantik?" Dari seberang sana, dapat terlihat, Rey tersenyum melihatku.

Aku pun menghela napas panjang, "Sepertinya Ragi kecewa banget sama gue … tidak, bukan sepertinya, tapi dia benar-benar kecewa sama gue."

"Karena?"

"Karena gue gak mau jujur sama dia."

Rey hanya diam, sepertinya dia sedang menunggu lanjutan dari kalimatku.

"Gak mungkin gue jujur atas kejadian tadi ke dia." Jujur aku merasa, setiap keputusan yang kuambil, akan berakhir buruk.

Seketika keheningan menyelimuti kami berdua. Entah apa yang sedang Rey lakukan. Namun, itu tidak bertahan lama, ketika dia berhasil memecahkan suasana. "Sampai kapan lo ngelanjutin skenario ini?"

Mulutku terbuka, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang dapat terucap. Kalimat itu berhasil memojokkanku.

"Val? Gue harap lo masih dengar perkataan gue. Lo harus sadar hati yang tersakiti karena ide gila lo," ujar Rey yang tak kunjung mendapatkan respons dariku.

Pikiranku bingung dengan jawaban apa yang harus diberi. "Tunggu waktu yang tepat. Sudah dulu ya, Rey, gue mau istirahat dulu." Tanpa menunggu responsnya, aku langsung memutuskan panggilan secara sepihak.

Aku harap keputusan ini benar.

—•°•—

.
.
.
TBC

Cuma mau ingatin, kalau besok hari Senin 😋

Terpukau aku sama support vote kalian 😘 aku jadi harus next kilat dua kali 😂

Bukan hanya itu.

Moodku hari ini jadi Bagus banget karena kalian 😂

Teman sama keluarga aku samapai terheran-heran 😂

Thank's buat support kalian 😘

Aku selalu berdoa, supaya kuota kalian gak habis-habis, supaya bisa tekan Bintang dipojokan 😂

Kalau mau next kilat lagi, aku tunggu 48 vote 😂

IYA, LO!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang