»☆«
Sebuah coklat tertata rapi di dalam kotak. Perempuan yang sejak tadi memegang benda itu, tak kunjung melepaskan pandangannya. Bagaimanapun juga, cokelat ini merupakan hasil tangannya sendiri, yang ia buat dengan susah payah.
Sudah hampir 10 menit ia terduduk di sebuah bangku koridor, menunggu orang yang sudah menaruh janji padanya.
Ketika netra menangkap seorang lelaki yang sedang berjalan di sudut koridor, dengan cepat ia menyembunyikan benda itu di balik punggung.
"Hai, Ragi." Val berusaha tersenyum dengan sentral mungkin. Jujur, sebelum lelaki itu datang, ia tidak bisa mengontrol detak jantung yang terlanjur merasa gugup.
Si pemilik nama tersenyum tipis, dan langsung duduk di sebelah gadis itu. "Hai, juga."
Val sesekali melirik Ragi sembari mengatur tempo tarikan napas. Namun, tiba-tiba matanya tertarik pada benda yang ada di genggaman lelaki itu.
Cokelat? Untuk siapa? batin Val. Entah mengapa, seketika itu juga ia merasakan senang. Bolehkan dia berharap?
"Ini cokelat dari, Hani." Ragi tersenyum hambar seperti mengerti apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.
"O … oh, H-hani." Seketika Val bersikap layaknya orang bodoh. Bahkan ia langsung membuang kotak cokelat yang ia sembunyikan, ke dalam tempat sampah yang ada di sebelahnya, secara diam-diam.
"Menurut lo, Hani, itu suka sama gue gak?" Ragi masih dengan ekpresi datar.
Val tersenyum kaku. Lo bodoh, Ragi! Lo benar-benar cowok yang gak peka sama perasaan cewek! Bahkan perasaan Hani sendiri aja, lo ga tahu! Bagaimana dengan gue …?
"Kenapa lo tiba-tiba nanya kayak gitu?" Hanya kalimat itu saja yang berani ia lontarkan. "Mungkin aja, dia ngasih lo cokelat sebagai bukti persahabatan kalian. Secarakan kalian sahabat dari kecil."
Mungkin sekarang bukan hanya dia saja yang terlihat bodoh, tetapi Ragi juga.
"Karena gue sahabat dia dari kecil, makanya gue merasa bingung sekarang. Hani, gak pernah ngasih cokelat seperti ini ke gue. Dia udah janji, hanya bakal ngasih cokelat valentine ke cowok yang dia suka." Ragi menatap ke arah Val. "Lo ngertikan maksud gue?"
Val langsung menggigit bibir bawah dan meremas rok dengan kuat, berusaha menahan sesuatu yang berhasil menusuk hatinya. Namun, lagi-lagi dia hanya bisa tersenyum.
"Ragi, bahkan gue yang gak dekat sama, Hani, tahu kalau dia punya perasaan ke lo." Dia berusaha menghindari kontak mata dengan Ragi. "Lo itu gak peka."
"Lo gak peka sama orang yang selalu ingin dekat dengan lo."
"Lo gak peka seberapa keras seseorang ingin selalu ada untuk lo."
"Lo gak peka seberapa susahnya menunggu lo bisa peka." Tanpa Val sadari, deru napasnya mulai tak terkontrol. Jujur, ini terlalu sakit.
"Sekarang gue tanya ke lo. Lo sendiri juga suka sama, Hani?"
Ragi terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo gak suka?" tebak Val tak kunjung mendapatkan jawaban.
Ragi menggeleng.
Jawaban yang semakin membuat Val merasa lebih sakit.
"Lo … suka sama dia?" Sungguh, Val terasa berat sekadar mengucapkan kalimat tersebut. Bahkan bibirnya terlihat bergetar.
"Rety, jujur sekarang gue benar-benar bingung dengan perasaan gue sendiri. Gue gak bisa bilang kalau gue suka sama dia. Dan gue juga gak bisa bilang kalau gue … gak suka sama dia …."
Val tersenyum hambar. Sungguh itu menyakitkan. Bahkan ia yakin kalau air matanya akan turun sebentar lagi.
"Ragi, lo jahat! Perasaan Hani ke lo aja, lo gak peka. Apalagi perasaan orang lain selain dia?" Orang lain yang tak lain merujuk pada dirinya sendiri.
"Maksud lo apa?" tanya Ragi semakin bingung.
Maaf, Val sudah tidak bisa lagi membendung air mata.
Namun, sebuah tangan tiba-tiba mencengkram tangan Val dengan cepat.
"Maaf, Ragi. Gue ada urusan sama, Rety." Rey yang melemparkan senyum, tanpa menunggu persetujuan langsung membawa perempuan itu. Sedangkan Val hanya bisa pasrah, ke mana pun lelaki itu membawa.
"Berhenti nangis!" Rey langsung menghempaskan tangan Val, ketika mereka berada di tempat yang sepi.
Val tersentak kaget mendengar intonasi tinggi dari lelaki itu. Namun, itu tidak berhasil menghentikan air mata yang sudah terlanjur jatuh.
"Lo dengar gak, sih?! Gue bilang berhenti nangis! Lo itu bego, ya, Val! Kenapa, sih, lo nangis begitu aja di depan cowok yang padahal gak suka sama lo, bahkan gak peka sama sekali!" Mata yang mulai memerah terlihat jelas di mata lelaki itu.
Val menggigit bibir bawahnya. Kini air mata sakit hati, telah bercampur dengan perasaan takut.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan dengan lembut menghapus jejak air mata gadis itu. "Air mata lo itu berharga, Val. Jadi, jangan lo buang sia-sia hanya untuk orang yang gak bisa ngehargain hati lo."
»TO BE CONTINUE«
KAMU SEDANG MEMBACA
IYA, LO!
Teen Fiction#1 in teenfiction 26/12/19 #4 in asik 05/02/19 Amazing cover by @kimfina14 Aku bukanlah playgirl! Aku hanyalah perempuan yang bingung di zona cinta segitiga ini. (ᴖ◡ᴖ)♪ SAY HELLO TO BUCIN!!
