#1 in teenfiction 26/12/19
#4 in asik 05/02/19
Amazing cover by @kimfina14
Aku bukanlah playgirl! Aku hanyalah perempuan yang bingung di zona cinta segitiga ini.
(ᴖ◡ᴖ)♪
SAY HELLO TO BUCIN!!
Seorang lelaki tak berhenti cengar-cengir sejak tadi. "Bilang apa ke gue?" ucap Rey seraya memainkan alis. Mereka baru saja menginjakkan kaki di sebuah rumah bewarna putih tulang.
"Kalau gak ada gue, entar lo bisa mati karena marathon kayang dari sekolah ke rumah." Rey mencoba mengingatkan, bahwa Van sudah menjilat ludahnya sendiri.
"Makasih!" ketus Val berusaha menjaga harga diri di depan lelaki itu. Kalau bukan kebodohannya, pasti ia enggan menerima tawaran tadi. Dia lupa kalau hari ini ibunya pergi ke luar kota. Namun, bukan itu saja, dia bahkan lupa mengambil dompet dan handphone yang tertinggal di laci meja kelas. Dan lebih sialnya semua ruang kelas telah terkunci ketika jam pulang berlalu.
"Sama-sama, Nona Cantik." Rey mencubit kedua pipi gadis itu dengan kuat. "Begonya dipelihara ya ... supaya gue bisa pulang bareng lo lagi."
"Sakit ... ta ... hu," gerutunya dengan bibir yang melebar. Rey benar-benar memperlakukan pipinya seperti karet ban.
Rey tertawa puas melihat ekspresi perempuan itu. "Muka lo jelek amat."
Val mendorong paksa tubuh Rey. "Udah gue mau masuk. Bye!" Tanpa menoleh, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Setelah melihat Val menghilang dari pandangan, Rey mendongakkan kepala melihat langit biru yang kini beralih menjadi abu-abu. Bahkan rintik hujan mulai membasahi tangan yang ia julurkan.
"KYAAAAA!"
Rey berbalik dan langsung berlari mengejar asal suara. Bahkan ia membuka pintu dengan kasar, tidak peduli pintu itu akan rusak karena perbuatannya. Pandangannya memburu, mencari sosok yang baru saja berteriak. Hingga mata itu menangkap seorang gadis yang berdiri kaku. Mata berair terfokus pada satu objek. Dengan tangan bergetar Val menunjuk ke arah sumber ketakutan. "Rey ..."
Rey meninjau arahan perempuan itu dengan seksama. Sontak dalam hitungan tiga detik, Rey menatap tidak percaya. Ada seseorang yang berdiri di balik jendela. Namun, langit mendung ditambah tirai Matahari membuat sosok itu terlihat seperti siluet.
"Sejak tadi dia berdiri di situ." Rasa takut membuat Val enggan untuk sekadar bergerak.
Rey memilih untuk diam--tidak mau mengejar. Dia bingung, kenapa orang itu masih diam berdiri, tidakkah dia takut kalau Rey mengejarnya? Apa maksud semua ini? Hingga si sosok melambai ke arah mereka, sebelum berjalan santai meninggalkan tempat itu.
Detik itu juga Val terkulai lemas--seperti orang yang tidak memiliki tenaga--dengan pandangan kosong. Rey pun menghampiri gadis yang masih terduduk dengan perasaan yang berkecamuk. Dia pun mengulurkan tangan, hendak menarik Val ke dalam pelukannya. Berharap dapat memberikan ketenangan. Namun, tangannya menolak. Dia pun mengurungkan hal itu. Dia memilih menepuk-nepuk pelan bahu sang gadis. "Tenang, Val. Gue bakal cari siapa pelakunya."
Val hanya terdiam, dengan air mata yang masih mengalir. Dia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. "Tapi, gue takut, Rey ...." Tangisan itu malah semakin deras.
"Lo jangan takut. Gue gak mau bilang selagi masih ada gue, tapi gue mau bilang selagi lo percaya sama Tuhan dihidup lo ... lo pasti dijaga-Nya," terang Rey seraya menghapus jejak air mata gadis itu.
Untungnya kalimat itu berhasil membuat Val menjadi lebih tenang.
"Tapi, bagaimana kalau hantu itu tiba-tiba datangin gue lagi waktu gue tidur?"
Rey hampir terbatuk mendengar pertanyaan bodoh itu. Dia sampai bingung, terbuat dari apa otak perempuan ini, hingga mempercayai bahwa itu merupakan hantu? "Lo punya indra keenam gak?"
Val menggeleng.
Rey mencubit pipi perempuan itu dengan gemas. "Terus kenapa lo mikirnya itu hantu? Emangnya lo bisa lihat hantu?"
Val berpikir keras--masih dengan pipi tercubit.
"Berarti itu manusia dong?"
"Ya, iyalah. Ah ... lo, jadi gagal romantiskan gue ke lo."
Entah kenapa hal itu berhasil membuat tawa di antara mereka. Melupakan apa yang telah terjadi.
Rey melirik jam dinding. "Udah malam. Gue balik ya."
Val mengangguk pelan. Merasa tidak ada yang perlu diperbincangkan, lelaki itu pun bangkit berdiri. Namun, gerakan itu terhenti ketika Val menarik ujung kemejanya dengan sangat pelan. Dia pun menoleh. "Ada apa?"
Gadis itu menunduk. "Temanin gue di sini. Gue takut," lirihnya tidak berani untuk beradu pandang dengan si lelaki.
Sontak Rey tersenyum lembut. Tangannya dia daratkan di atas kepala sang gadis dan mengelusnya dengan lembut. "Baiklah, kalau lo merasa aman seperti itu."
Tanpa menunggu lama, dia pun mengulurkan tangan. "Pergilah ke kamar lo dan istirahat. Biar gue jagain lo di sini." Tanpa ragu, gadis itu menyambut uluran tangan tersebut.
Val pun hendak beranjak menuju kamar, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti. "Lo yakin tidur di sini?"
Rey yang melihat sebuah sofa pun mendaratkan bokongnya sembari menikmati keempukan benda itu. "Tidur di sini tidak begitu buruk."
Dia melirik Val sembari memainkan alis. "Memangnya lo mau kalau kita tidur bareng?"
"Enggak kok. Gue nanya soalnya, kandang ayam gue lagi kosong. Mana tahu aja lo lebih nyaman di sana."
Rey hanya bisa menahan geram, ketika perempuan itu menjulurkan lidah. Dia pun membaringkan tubuh di sofa seraya memperbaiki posisi yang nyaman. Merasa rasa kantuk mulai menyerang, dia pun memejamkan mata. Namun, sebuah benda empuk mengenainya. Ketika membuka mata, ia mendapatkan bahwa Val yang melakukan hal itu.
"Gue gak mau kelihatan jahat karena membiarkan lo tidur kayak gitu. Paling tidak bantal dan selimut itu dapat membuat lo nyaman," terang Val yang hendak kembali ke kamar.
Namun, langkahnya terhambat oleh perkataan Rey. "Gue gak perlu bantal sama selimut ini, karena yang buat gue nyaman hanya lo."
Entah itu merupakan humor atau apapun, yang pasti Val tidak bisa menahan senyuman yang tercipta. Dia merasa enggan untuk berbalik ke arah Rey. Dia tidak mau lelaki itu tahu.
"Tapi, boong!" teriak Rey penuh kenyamanan.
Sontak Val berbalik dan melempar bantal yang dia pegang. "Sialan!"
»TO BE CONTINUE«
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.