________________________
Jangan mengabaikanku, karena aku ada bukan untuk diabaikan
________________
»☆«
Tawa besar berhasil mengisi sebuah ruangan. Tidak peduli dengan norma yang ada di tempat itu. Val benar-benar tidak bisa menahan rasa menggelitik di perutnya, walaupun ada selang infus yang menempel pada tangan.
"Lo mikir gue mau mati?" Dia mencoba mengulang kalimat, yang sempat terucap dari mulut lelaki di sebelahnya.
Rey memasang muka kusut.
"Padahal darah dan suara tembakan itu hanya tipuan. Tapi, bisa juga ngejebak orang bodoh kayak lo." Val menghapus air mata yang keluar akibat tawanya. "Lo kena jebakan bat--"
Rey langsung menenggerkan kacamata pada gadis itu. "Sekarang lo harus nyamar, lima menit lagi Ragi bakal datang ke sini."
Sontak kalimat Rey seperti sebuah sengatan listrik di tubuh gadis itu.
Val membelalak tidak percaya.
"REY, KENAPA GAK BILANG DARI TADI!!" teriak gadis itu seraya mengambil wig yang ada di tangan Rey.
Melihatnya sigap dengan kecepatan robot, Rey sempat berpikir bahwa perempuan itu seperti terlihat tidak sakit.
Hingga suara derit pintu terdengar dengan pelan. "Ret?" ucap Ragi berusaha memastikan bahwa benar gadis itu.
Dengan segala keberuntungan yang Val miliki, dia dapat menyelesaikan penyamaran dengan tepat waktu.
"Hai, Ragi!" Dia tersenyum lebar menyambut kedatangan lelaki itu.
"Bagaimana kabar lo?" Ragi meletakkan sebuket bunga serta beberapa buah di atas meja.
"Baik."
Ragi tersenyum lebar melihat kondisi perempuan itu.
Namun, tiba-tiba Val menarik perhatian pada luka yang ada di bibir si lelaki. Dengan pelan ia menyentuh dagu lelaki itu.
"Ragi, bibir lo kenapa luka?"
BRAK!
Suara bantingan pintu yang sangat keras terdengar. Itu Rey, yang memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Val pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan tersebut. Ia pun kembali menagih jawaban dari Ragi.
"Hanya karena perkelahian sesama laki-laki," ucap Ragi dengan senyum kaku.
Val terdiam, dia mencoba menghubungkan sebuah benang merah. "Lo berkelahi sama, Rey?"
Dengan pelan lelaki itu mengangguk. "Hanya masalah ringan."
Namun, kalimat itu tidak berhasil menghentikan tatapan sendu gadis berambut sebahu itu.
"Mau gue obati?"
Dengan cepat Ragi menolak semua itu. "Tidak usah. Sebelum ke sini Hani sudah ngobatin gue. Malan seharusnya gue yang tanya kayak gitu ke lo."
Val sedikit mencengkeram selimutnya. Lagi dan lagi, nama gadis itu terucap. "Bisakah tidak ada nama Hani di antara kita?" ujarnya sedikit menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
IYA, LO!
Teen Fiction#1 in teenfiction 26/12/19 #4 in asik 05/02/19 Amazing cover by @kimfina14 Aku bukanlah playgirl! Aku hanyalah perempuan yang bingung di zona cinta segitiga ini. (ᴖ◡ᴖ)♪ SAY HELLO TO BUCIN!!
