Pagi-pagi sekali Afifah sudah berada di sekolah. Seperti halnya siswa-siswi yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan lomba 17-an
"Hey...." sapa Aldan saat menemui Afifah tengah memasang balon merah putih di aulah sekolah.
"Aldan, kalau nyapa itu ucap salam dulu, supaya aku bisa bedain yang sapa Aku manusia apa bukan"
"Maksudnya Aku setan?" cengir Aldan yang dibalas anggukan dan senyuman manis oleh Afifah.
"Kalau Aku setan berarti baru kali ini setan ada yang jatuh cinta Fif" ucap Aldan lagi dengan nada suara yang sengaja dilirih-lirihkan.
"Aku jadi penasaran, setan itu bisa jatuh cinta sama siapa?" tanya Afifah lagi sambil mengambil beberapa balon merah putih.
"Jatuh cinta sama kamulah, tapi waktu itu sebelum Adrian kenal kamu" Batin Aldan.
Tertarik dengan senyum Afifah yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya, membuat Aldan tidak punya alasan untuk berhenti menatap keindahan ciptaan tuhan itu. Tanpa sadar ada orang di pintu aula yang selalu melihatnya dari tadi. Adrian Triatma Putra.
Hampir setengah jam Adrian berdiri di sana, melihat ekspresi Aldan yang begitu senang berbincang dengan Afifah.
"Eh, KETOS di panggil sama kepala sekolah, katanya ada hal penting" tatapan Adrian buyar saat ada salah satu panitia lomba yang menegurnya. Adrian hanya membalas anggukan, lalu pergi meninggalkan aula.
***
Jam pelajaran matematika tengah berlangsung. Bu Ela lagi sibuk-sibuknya menerangkan tentang Statistik di depan kelas. Tapi justru Aldan juga berbeda, kesibukannya beda dengan semua makhluk yang ada di kelas. Dia lebih fokus pada satu wajah. Afifah.
Tanpa Aldan sadari ada mata tajam di sudut kelas sedang mengekernya dan ada tatapan jengkel dari kursi paling depan yang tengah berbalik ke arahnya.
Adrian dan Ari kini fokus pada satu wajah, senyum Aldan yang masih bertahan di wajahnya karena tengah menatap Afifah
"Apa rasa itu masih ada?" Batin Adrian bertanya.
Pukkkk.....
Sebuah pesawat kertas tiba-tiba mendarat di atas meja Aldan.
"Tidak ada rumus modus dan median, di wajah gadis bodoh itu. GOBLOK...!!!"
"Siapa yang lempar sih" desis Aldan sambil balik kiri kanan, mencari siapa pelaku yang melempar pesawat kertas itu.
"Aldan, fokus ke papan tulis jangan balik kiri kanan nanti engsel leher kamu patah" gilaaaak... Guru Besar di depan kelas ternyata tau kelakuannya.
"Yee..nih guru mentang-mentang guru matematika jadi pura-pura bego biologi. Mana ada engsel di leher" Batin Aldan membantah pernyataan Bu Ela barusan.
"Kenapa kamu, ngelawan ibu. Iya?" Bentak bu Ela lagi.
MAMPUS....
KAMU SEDANG MEMBACA
Arafah
Teen FictionCinta datang tanpa syarat bahkan bisa dari orang yang sangat kita bencipun cinta bisa tumbuh. Seiring berjalannya waktu tak ada yang bisa menentukan kemana hati kita akan mengarah. Jatuh cinta padamu, berencana untuk berhenti mencintaimu atau justr...
