Tungkai Ari benar-benar terasa lemas. Ia menumpukan lututnya di kaca besar yang ada di depannya. Rupanya semua bagian tubuhnya bekerja sama hari ini untuk menyiksanya.
Nafasnya tersengal, dadanya sesak dan lidahnya terasa keluh. Melihat Afifah terbaring lemas di atas brangkar rumah sakit. Di balik kaca besar yang menjadi pembatas antara ruangan Afifah dan dirinya, Ari menyaksikan betapa menderitanya gadis itu.
Menyayat sekali rasanya melihat keadaan gadis itu yang di pasangkan banyak kabel dan alat bantu nafas. Mulut terbuka dan lidahnya pun keluar sebagian.
Menderita bukan.
Dimana Afifah yang dulu, polos dengan senyum cantiknya.
Hari ini seperti bukan Afifah. Tak ada senyum yang seolah meyakinkan Ari bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena yang Ari lihat adalah Afifah yang jelas-jelas tidak baik-baik saja. Lemah tak berdaya
"Kata dokter saat operasi tadi darahnya cukup banyak yang keluar dan kondisi Afifah benar-benar lemah. Makanya dia harus di ICU" ucap Deandra sepelan mungkin. Ia tau keadaan Ari saat ini.
"Dia bakal tetap hidup kan?"
"Amin. Berdo'a. Semoaga Afifah bakalan baik-baik aja"
"MAKSUD LO APA?"
Gertakan Ari membuat Dea tersentak kecil. Suara Ari yang tiba-tiba meninggi membuat Aldan yang berada tidak jauh dari mereka menoleh.
"AFIFAH PASTI BAKAL BAIK-BAIK AJA. HARUS!"
Deandra menelan salivanya kasar. Ia melihat wajah Ari benar-benar menyeramkan. Berbeda dari biasanya Deandra akan tetap berani membantah apapun yang pria itu katakan. Namun hari ini Dea merasa takut untuk membalas perkataan Ari.
"Dia" Ari menunjuk Afifah "BAKAL TETAP HIDUP"
Dea mengangguk dan berusaha tersenyum. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menenangkan Ari saat ini.
"Dia itu benar-benar gadis bodoh. Dia selalu ada buat gue. Dia bawa cahaya buat gue, ngenalin gue banyak hal yang lebih baik dan menghapus semua hal yang tidak baik yang pernah gue percaya sebelumnya. Dan sekarang dia bakalan pergi. Apa itu adil buat gue?"
"Kenapa hanya dia yang bisa selalu ada buat gue dan disaat gue berjuang buat ngelakuin satu hal aja yang dia mau. Dia malah mau pergi. Dan hal itu nggak adil buat gue"
Cairan bening berhasil lolos dipelupuk mata Deandra. Walaupun ucapan Ari terdengar marah namun Deandra tau dibalik kemarahan itu ada kerapuhan dan ketakutan yang berusaha ia tutupi. Ia takut Afifah benar-benar pergi.
Dalam kemarahannya sebenarnya ada do'a yang tersirat bahwa semoga Afifah akan baik-baik saja. Tapi Ari menutupinya dengan tidak mau menganggap itu sebagai do'a hanya perintah yang mengharuskan Afifah harus baik-baik saja.
Deandra mendekat dan memeluk pemuda itu erat. Memberikan kekuatan pada orang yang selalu melindunginya. Ia juga ikut terluka melihat ini. Biasanya Ari hanya terlihat rapuh dihadapannya. Tapi hari ini Ari tidak peduli dengan orang disekitarnya. Ada Aldan,Ibam, Umi, Farhan, Sesilya, Adrian,Aqila dan Ayana. Mereka semua melihat kerapuhan Ari. Sisi lain yang selalu ia sembunyikan pada orang lain.
"Kata dokter Afifah hanya sebentar di dalam sana. Setelah kondisinya membaik dia akan di pindahkan ke ruang rawat inap"
"Awas aja kalau dokter itu sampe bohong. Gue bakar rumah sakit ini"
"Hmmm" Deandra mengangguk. "Nanti gue bantu beli bensin di agen yang gue kenal"
Deandra merasakan kepalanya dielus dengan lembut. Ia mendongak dan melihat Ari berusaha tersenyum di sana "Maaf tadi gue bentak lo"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arafah
Ficção AdolescenteCinta datang tanpa syarat bahkan bisa dari orang yang sangat kita bencipun cinta bisa tumbuh. Seiring berjalannya waktu tak ada yang bisa menentukan kemana hati kita akan mengarah. Jatuh cinta padamu, berencana untuk berhenti mencintaimu atau justr...
