© 2019, Keyralaws.
/Little bit Dark/
*****
Malam itu kembali hadir, sebagai pengingat masa lalu yang pernah gadis itu rasakan. Matanya menelusuri langit malam, yang kelam dan gelap tanpa sang bintang. Kelopaknya dengan tiba-tiba terpejam saat sekelebat bayangan itu jatuh tepat dibalik pikirannya.
Rintihan itu, Jerit luka diantara tangis mendesis pelan yang perlahan-lahan tampak nyata dalam pendengarannya. Entah kenapa dadanya seperti kembali terhimpit, terasa begitu menyesakkan dan perih.
Ia benci mengingat masa lalu, mengingat saat dimana pria itu menyekap kemudian menyiksanya. Tapi yang ia tekankan adalah Kyuhyun bukanlah masa lalunya, justru ia berharap Kyuhyun adalah masa depannya
Ia tahu mungkin itu pikiran yang konyol, luka masa lalunya masih diharapkan sebagai masa depannya. Tapi ,inilah realita. Realita tentang bagaimana kehidupannya cintanya.
Dan perasaannya mengatakan, bahwa ia menginginkan Kyuhyun menjadi masa depannya. Persetan dengan masa lalu yang disebut sebagai luka itu, pada kenyataannya ia masih menginginkan pria itu. Bahkan masih amat sangat didalam lubuk hatinya.
Pandangannya sedikit kabur, air mata yang menggenang membuat penglihatannya terhalang. Dan pada akhirnya, kodratnya sebagai wanita itu muncul. Kodrat yang telah menggariskan bahwa sekuat apapun wanita, pada akhirnya mereka hanya mampu menangis.
Dan Seohyun adalah salah satunya, ia sudah terlalu lelah harus bersandiwara berlama-lama dengan berpura-pura membenci Kyuhyun di hadapan Donghae. Tidak. itu bukan inginnya. Mungkin benci itu ada, karena logikanya belum siap mengatakan kembali bahwa Kyuhyun telah melakukannya.
Menghancurkan perasaannya sekaligus kepercayaannya. Yang ia tahu, cinta tak butuh logika. Logika bukan segala yang selalu membahagiakan.
"Bagaimana kabarmu, Kyuhyun oppa?"
Seohyun tersenyum, ketika mengingat-ingat kembali semua hal yang pernah terjadi diantara keduanya. Hubungan yang manis dan berjalan baik, namun hari itu entah mengapa telah berubah. Tepat pada tanggal 14 februari itu, semuanya terjadi. Hanya saja, alasan pria itu yang masih menjadi misteri.
Sebuah tindakan, pasti beriringan dengan sebuah alasan. Dan alasan pria itu, adalah hal yang tak pernah diketahui olehnya.
"Hyun..?"
Seruan itu membuat Seohyun menoleh, mendapati sesosok pria dengan luka perban dikepalanya. Seohyun tersenyum sebagai jawaban dari sapaan itu, lalu memutar kembali tubuhnya menatap langit. Pria itu—Luhan, telah berdiri sempurna disamping Seohyun. Mengikuti arah pandang gadis itu menuju langit biru yang gelap
"Kau sudah merasa lebih baik, oppa?"
Luhan mengangguk, ia tak ingin banyak bicara. Biarkanlah gadis itu yang lebih mendominasi, agar ia bisa melihat sejauh mana gadis itu memperhatikan keadaannya.
"Maaf merepotkanmu juga Donghae hyung."
"Itu kewajiban kami ,oppa"
Keduanya kembali terdiam, merasa canggung dengan situasi ini. Situasi yang tak pernah bisa dipecahkan seperti dulu.
"Joo? kau mau ikut oppa?"
"Kemana?"
"Menjenguk Kyuhyun"
*****
Masa lalu itu telah menghitam, bersamaan dengan waktu. Kilasan itu pernah menjadi saksi, bahwa cintanya tak pernah main-main meski untuk hal sekecil apapun. Tapi jiwa itu, seolah salah dimata yang lain. Membuat orang lain berfikir, bahwa cinta telah menjatuhkannya dan membuatnya gila, tapi itu salah! penyakit pun datang tanpa diminta. Hinggap tanpa meminta izin dari setiap pemilik, jadi anggap saja dia korban harapan yang terlalu menggunakan perasaan.
PRANGG——beberapa nampan bekas makanan yang tertumpuk di lempar begitu saja oleh Kyuhyun.
Kyuhyun mencoba bersikap, namun jiwanya selalu mencoba mencari apa yang ia suka lewat tingkah yang justru tak disukai orang lain. Seperti saat ini, Kyuhyun tengah terdiam disudut ruangan.
Wajahnya tenggelam diantara lutut yang terlipat, rambutnya berantakan seperti tidak pernah diperhatikan olehnya. Bibir itu terus menggumam, menyebut nama Seohyun dengan lirih. Pikirannya terlalu menangkap nama itu hingga terlalu sulit untuk dilupakan.
"Hyun..."
Kyuhyun mengangkat wajahnya, terlihat begitu pucat dan menyedihkan. Satu tahun berlalu rupanya belum mampu mengubah jiwanya, dokter bahkan belum menemukan pasti apa yang membuat Kyuhyun seperti ini.
"Aku mencintaimu, hyun..." Pria itu kembali melempar nampan yang memang sudah berserakan dilantai, hingga kebisingan itu terjadi lagi dan lagi. Sepenuh jiwanya terlalu lambat menangkap pemulihan
"Arrggh——brengsek kau Luhan!!.."
Kyuhyun meninjukan tangannya ketembok, tak peduli seberapa banyak darah yang mengucur dari tangannya. Yang ia pedulikan adalah bagaimana cara ia mendapatkan gadis itu, tanpa bisa ada yang merebutnya kembali. Menjauhkannya dari cinta yang sudah dekat, mengambil hak miliknya tanpa mengerti perasaannya.
"Kau milikku, hyun.."
Perlahan rasa kepercayaan diri itu muncul, tak pernah ada cinta palsu yang menemuinya. Cintanya tetap satu, yaitu gadis itu Seohyun. Kyuhyun tersenyum, jiwa itu akhirnya kembali menenangkannya lewat nama indah gadis itu.
*****
"Begitulah keadaan Kyuhyun saat ini, kami masih belum mengetahui penyebab pastinya,tapi sepertinya Kyuhyun-ssi mengidap sebuah syndrom."
Pria paruh baya itu membimbing luhan dan Seohyun menuju meja agar lebih memudahkan mereka membahas tentang masalah Kyuhyun, Seohyun dan Luhan mendudukan dirinya didepan meja pria paruh baya tersebut. seolah ingin mendengar lebih banyak lagi semua tentang Kyuhyun.
"Syndrom ini diperkirakan sudah ada sejak Kyuhyun berumur sembilan tahun, mungkin saat itu ada sebuah keinginannya yang tak bisa terpenuhi sampai sekarang, dan ya? sama seperti obsesi, syndrom juga memiliki sebuah keinginan yang mengharuskan."
Seohyun membelalak, ternyata selama ia dan Kyuhyun tiga tahun pacaran ia tak pernah mengetahui jika pria itu memiliki sebuah syndrom? betapa bodohnya ia sempat berpikir untuk membenci pria itu selamanya. ia ingin menerka , tetapi logikanya terlalu takut memprediksikan hal yang lebih jauh yang tak pernah bisa ia bayangkan,
"Apa hingga separah itu?''
"Ya? memang seperti itu yang kami temukan."
Tubuhnya seketika melemas, apa masih ada harapan untuk Kyuhyun sembuh dan menjalin rumah tangga yang indah bersamanya suatu saat nanti, atau mungkin sudah tidak ada lagi harapan untuknya.
"Jangan putus asa hyun,"
"Tapi, oppa...."
Luhan memeluk tubuh Seohyun, mencoba menenangkan gadis itu dalam dekapan kecilnya, meski dalam hati kecilnya ia juga masih menginginkan gadis itu untuk bersamanya, tetapi dia tidak bisa menjadi sosok yang egois, sudah jelas-jelas gadis itu hanya mencintai Kyuhyun. Apa masih harus ia menyakiti gadis itu dengan memaksanya untuk melupakan orang yang dicintainya?
"Aku akan menunggu Kyuhyun oppa."
Bagi Seohyun, tidak apa jika nyatanya ia masih belum bisa melupakan Kyuhyun. Bahkan jika ia bisa melakukannya, ia pasti akan melakukannya. Hanya saja, cinta terlalu menguasai Seohyun untuk tetap bertahan di sisi lelaki itu dengan apapun alasannya.
“Aku benar-benar akan menunggu.”
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT AREA
Fiksi PenggemarBerisi Fanfiction One Shoot SeoKyu💜 #5 seohyun #4 maknaecouple #3 kyuseo
