Seohyun terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal ketika mendengar suara ibunya berteriak dari balik pintu kamar. “Joo, sayang, ini sudah pagi, ayo bangun. Mama tunggu di bawah ya, untuk sarapan.” Kemudian ketika matanya melirik ke arah jam, hari itu sudah pagi.
Kedua tangannya kemudian terangkat untuk menutupi wajahnya sendiri, memastikan apakah dia hanya bermimpi atau tidak. “I–ini, maksudnya ....”
Bayangan tentang Kyuhyun langsung memasuki kepalanya; tentang siapa lelaki itu, bagaimana cara mereka bertemu, sebanyak apa waktu yang sudah mereka habiskan bersama—sampai segala pertengkaran di antara mereka, menangis dalam satu pelukan yang sama. Seohyun tidak akan lupa sedikit pun, sama sekali tidak. Segalanya bahkan sangat jelas dalam ingatannya.
Tapi, kemudian, Seohyun mulai bertanya-tanya apakah ini hanya mimpi atau bukan. Rasanya terlalu jelas, terlalu nyata untuk ukuran mimpi yang hanya menghabiskan waktu satu malam—sementara segala tentang mereka, rasanya sangat panjang; sangat panjang sampai Seohyun yakin ini semua bukan mimpi.
Tangannya buru-buru meraih ponselnya di atas nakas. Kemudian matanya mencari nama Kyuhyun di antara puluhan chat yang tertumpuk di sana.
Tapi hasilnya tidak ada. Tidak pernah ada nama Kyuhyun di sana, tidak seperti dalam bayangannya—yang akan menemukan nama lelaki itu di urutan paling atas.
“T—tidak mungkin, kan?”
Seohyun menutup mulutnya terkejut.
Karena kenyataannya, dia baru saja bermimpi panjang. Sebuah cerita yang entah bagaimana caranya bisa menjadi bagian dari mimpinya.
Mereka tidak pernah saling mengenal, tidak pernah saling bicara, tetapi kemudian—lelaki itu masuk ke dalam mimpinya; membuat Seohyun hampir saja menganggap semua ini nyata.
“Kau pasti sudah gila, Joo!” Seohyun merutuki dirinya sendiri. “Bagaimana mungkin kau bisa memimpikan seseorang yang tidak kau kenal.”
Semuanya ilusi, dan mimpi.
Tidak ada nama Kyuhyun dalam aplikasi chatnya. Tidak juga dengan nomor lelaki itu dalam kontaknya.
Tidak ada foto mereka dalam galeri ponselnya.
Semuanya tidak ada.
“C–Cho Kyuhyun?” bahkan Seohyun baru sadar jika rasanya sangat aneh untuk dia menyebut nama lelaki itu. Sebuah perasaan tidak biasa.
Namanya, Cho Kyuhyun.
Dalam keadaan sekarang, Seohyun hanya ingat bahwa lelaki itu adalah kakak kelasnya si kapten tim basket sekolah. Tidak pernah lebih dari itu.
“Joo, apa ada masalah?”
Begitu suara ibunya terdengar lagi, Seohyun buru-buru beranjak dari kasur. Tidak berniat memikirkan segalanya lebih jauh lagi.
“Iya ma, sebentar, Joo akan turun.“
Setidaknya, Seohyun harus ingat bahwa dia hanya baru saja bermimpi.
.....
“Apa kita pernah bersinggungan di satu titik yang sama? Kalau iya, itu mungkin jatuh cinta.”
Original Story © Keyralaws
D E A R, H I M
.....
Seohyun mendorong pintu ruang olahraga dengan sebelah kakinya karena seluruh tangannya penuh dengan bola basket.
Seusai pelajaran olahraga, Seohyun yang sudah mendapat wejangan dan hukuman dari Pak Jung harus mengasihani dirinya sendiri yang perlu membawa banyak bola dari lapangan ke ruang olahraga yang jaraknya lumayan jauh. Pak Jung juga sudah melarang teman-temannya untuk membantunya—membuat Seohyun tidak punya pilihan, dan menyuruh teman-temannya untuk ke kafeteria lebih dulu, sementara Seohyun akan menyusul.
KAMU SEDANG MEMBACA
ONESHOOT AREA
Hayran KurguBerisi Fanfiction One Shoot SeoKyu💜 #5 seohyun #4 maknaecouple #3 kyuseo
