Kayvi menatap wajahnya pada cermin meja rias. Tangannya memegang botol alkohol sementara tangan lain mengepal dengan kuat. Melihat rambutnya berantakan dengan mata bengkak dan sembab membuatnya menghela napas berat. Ia memakai baju dan meraih helmnya keluar dari kamar dengan botol alkohol yang masih setia ia pegang.
Memasuki lift, ia hanya sendiri disana. Bersandar pada dinding, Kayvi menatap pantulan wajahnya dan kembali meminum alkohol. Ia memejamkan matanya, menikmati rasa pahit seperti keadaan hatinya.
Ting.
Lift terbuka. Lagi Kayvi menghela napas dan melangkah keluar. Ia membuang botol alkohol itu dan memakan helmnya berjalan menuju tempat parkir motornya. Menyalakan motor, dengan tarikan gas membuat motor itu melesat keluar dengan laju cepat. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Sudah lumayan ramai dan Kayvi sama sekali tak menurunkan kecepatan motornya.
Saat berhenti karna lampu merah, Kayvi bahkan sudah sangat bersiap untuk menggas motornya dengan kecepatan yang tinggi. Laki-laki itu tidak takut sama sekali saat beberapa pengendara memakinya karna menyelip.
Memasuki kompleks rumahnya, Kayvi langsung berbelok masuk ke rumah saat Tuan Seno membukakan gerbang untuknya. Ia memarkirkan motornya sembarang di halaman rumah, turun dari motor itu dan melempar helmnya. Rasa mual yang sedari tadi ia tahan terkeluarkan di rumput hijau yang selalu dirawat bibi.
"Kayvi, kamu kenapa?!"
Kayvi menoleh, menjauh saat Ny. Febby mendekatinya dengan wajah khawatir.
"KAMU MINUM ALKOHOL?!" Teriak Ny. Febby mencium aroma dari tubuh anakny itu. Ia menarik Kayvi yang pasrah diendus oleh ibunya. "Jawab Kayvi!!"
Kayvi hanya menundukkan kepalanya.
"Kamu udah gila ya?! Kamu pikir umurmu berapa?!" geram Ny. Febby memukul punggung putranya yang hanya menunduk.
Kayvi menunduk dalam. Pukulan itu bahkan tak terasa dibanding rasa sakit hatinya.
"Mama kecewa sama kamu, Kayvi. Mama pikir kamu anak baik yang selalu dengerin mama. Kamu tau mama gak suka kamu bersikap--"
"Aku juga, Ma!" teriak Kayvi membuat Ny. Febby terkejut. "Aku juga kecewa!! Kenapa aku harus sepengecut ini?! Kenapa aku gak bisa terima kalau aku gak bisa sama Kesya, Ma?! Kenapa aku gak bisa perjuangin apa yang aku mau--"
PLAK!
Tamparan keras itu membuat Kayvi terdiam. Matanya memanas dan memerah melihat wanita yang ia sayangin menangis karnanya.
"Sadar Kayvi! Apa yang kamu lakukan ini tindakan bodoh!!"
Kayvi kembali menunduk. Ia berjongkok di halaman, memeluk kaki ibunya dengan Isak tangis. "Kayvi gak bisa Maa, Kayvi mau Keysa," raungnya seperti anak kecil.
Melihat itu amarah Ny. Febby seketika berganti menjadi rasa iba. Berjongkok di depan putranya, Ny. Febby mengusap wajah kacau putranya itu. "Kamu harus bisa, Sayanggg."
Kayvi menggelengkan kepalanya dengan Isak tangisnya.
"Ini hari bahagia Keysa. Kamu mau buat dia sedih lihat kamu kayak gini?" tanya Ny. Febby memperbaiki rambut putranya. "Sebentar lagi acara Keysa dimulai. Keysa udah cari pakaian terbaik buat kamu, dia beli pake uangnya sendiri. Kamu harus pakai ya, datang dengan wajah ceria dan sambut dia dengan senyum terbaik."
"Ma--"
"Bisa yaa?"
Kayvi menutup mulutnya mendengar suara memohon itu. Ia akhirnya mengangguk dengan wajah yang tertunduk.
"Mama mau bantu Keysa, kamu siap-siap ya. Acaranya dimulai jam delapan"
Kayvi mengangguk kecil. Ia menatap kaki yang mulai menjauhinya dan menghilang dalam mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fam(ily)
Teen FictionIni Kisah Keysa. Yang tidak pernah merasakan masa 'jomblo'. Karena setiap putus dari pacarnya, Keysa masih punya tiga cadangan. -Galava. -Kayvi. -Albivaran(?) *Ini bukan short story yang masalahnya selesai satu chapter aja. *Walau setiap chapter p...
