A part before final journey!
**
"Tisya DM aku, ngajak aku ketemu."
Rian bangkit duduk saat dengar penuturan Icha via telepon. "Ngapain? Gak usah diurusin, ah."
"Gak apa-apa. Maybe, she will talk about something."
"Gak usah, yang. Udah, diemin aja. Blokir aja."
"Ih, kenapa? Gak apa-apa, Mas."
Rian menghela nafas kasar. "Kapan?"
"Besok, katanya."
"Aku temenin."
"Gak usah, yang. Dia mau ketemu berdua."
"Cha, gak usah kalau gitu." pinta Rian.
"Mas, everything will be fine. Aku yakin dia gak akan ngapa-ngapain aku. Lamu pilih dia dulu, juga pasti karena dia baik. Dan aku yakin, karena dia baik, dia gak akan ngapa-ngapain aku."
"Jam berapa?" pasrah Rian.
"Jam tujuh malam."
"Kenapa harus malam? Dimana?"
"Kan aku kerja, Mas. Di kuningan."
"Bisa pas istirahat. Jangan malam."
"Mungkin dia ada kerjaan."
Rian misuh-misuh sendiri. "Aku yang anter!"
"Mas, we have our own privacy, right? Anggap aja ini privacy ku." tolak Icha.
"Ini pasti ada hubungannya sama aku, Cha."
Icha tersenyum diseberang sana, tanpa sepengaetahuan Rian. "Mungkin. Ya, tapi, udah lah, Mas. Gak apa-apa. Let me meet her alone ya? Gak usah diantar. I'll fine."
"Yasudah, kabarin aku terus pokoknya."
"Iya, sayangkuuuuuuu!"
"Kamu mau titip salam gak sama dia?"
"Yangggg!"
**
"Hai, Tisya." ujar Icha begitu sampai dimeja tempat Tisya duduk. Dipojok restoran.
"Oh, hai! Icha?"
Icha mengangguk. "Duduk." ujar Tisya.
"Thanks. Sorry lama, tadi, macet."
"Dianter Rian?" tanya Tisya.
Icha menggeleng cepat. "Gue bawa mobil sendiri."
Tisya mengangguk. "Pesen aja dulu."
Icha memesan makanannya.
"So, ada apa?" tanya Icha begitu makanannya sudah diantar ke mejanya.
"Latifa. Do you remember it?"
Icha menghela nafas panjang. "Of course, its you, right?"
Tisya tersenyum tipis. "Rian bohongin lo soal gue. Soal perasaanya. Soal awal hubungan kalian, soal-----"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lucky (Rian Ardianto)
Fiksi PenggemarBasically, cerita tentang betapa keduanya merasa beruntung bisa dipersatukan dalam kisah cinta penuh lika-liku. Main cast : Rian Ardianto Wednesday, January 29th, 2020.
