37 - Kutub 🍁

1K 61 0
                                    

Salah satu hal menyakitkan bagi seorang pejuang move on adalah terpatahkan kembali ketika mulai menyambut masadepan


Azzam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Baru saja tadi pagi ia merasakan bunganya kembali mekar kini bunga itu harus layu kembali.

Jadi ini alasan Asya menolaknya pulang bersama, hanya karena laki-laki yang notabennya hanya teman.

Ingin saja ia tarik kata-kata yang tadi di ucapkannya di hadapan Gilang. Kata-kata yang sekarang membuatnya muak. Bahkan untuk melihat foto itu saja Azzam ingin sekali menghancurkan ponselnya.

Foto Asya yang sedang memasuki mobil bersama Fahmi disampingnya. Apakah hal semacam itu bisa dikatakan wajar, apalagi statusnya sekarang adalah 'istri' dari Azzam.

Azzam memarkirkan mobilnya di garasi, ketika keluar dari mobil matanya terus memandang sekitar rumahnya dengan datar. Sepi.

Lalu dengan langkah cepat ia berjalan memasuki rumahnya. Terlihat wajah ceria Asya keluar dari arah dapur, dengan segera ia menyambar tangan Azzam hendak menciumnya, namun segera Azzam tepis.

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar.

Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah.

Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya.

"Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung.

"Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam.

Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih.

"Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin.

Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar.

Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam.

Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh.

"Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam.
Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.

Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam.

"Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar.

Hening.

"Mas," panggil Asya mulai pasrah.

Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri.

Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah.

***

Malam harinya Asya kembali mengetuk pintu kamar, berharap Azzam keluar. Tapi setelah setengah jam menunggu tak ada tanda-tanda Azzam akan keluar.

Asya menopang dagu di meja, makanan kesukaan suaminya telah tersaji, bahkan hampir dingin.

Ia menghela nafas, lalu menyandarkan punggungnya di kursi.
Ia melihat layar ponselnya, sudah menunjukan pukul 9 malam. Sejak pulang dari kantor siang tadi sampai saat ini Azzam belum keluar kamar, entah apa yang dilakukannya di dalam sana.

Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang