Minghao menegak Soju untuk kesekian kalinya. Ia mengecap bibir lalu menyuapi dirinya dengan setusuk Oden. Aku sendiri minum sedikit-sedikit, menghalau kejadian yang tidak diinginkan--misal kami mabuk berdua dan tidak bisa pulang dan mati kedinginan di jalan atau aku yang dipecat dari mini market karena telat bangun akibat mabuk. Ku kunyah Tteokppeokki di hadapanku dengan pelan, wajahku masih masam, masih tidak terima apa yang dilakukan Minghao hari ini kepadaku.
"Wajahmu jelek sekali." Kata Minghao membuatku mendecakkan lidah.
"Kau mengajakku di waktu yang salah, Xu Minghao."
"Kalau tidak tiba-tiba kau pasti akan menolak."
Ya, dia benar. Sejak mengungkapkan perasaannya, aku sering menolak ajakannya ke mana pun. Entah menemaninya ke akademi, makan siang atau hanya berjalan-jalan di sekitar Sungai Han. Mau bagaimana pun juga hubungan kami bukan lagi sekedar sahabat dan aku tidak mau mempermainkan perasaannya.
"Minghao,"
Kedua tangan Minghao terangkat, menyuruhku diam. "Aku tahu." Katanya lirih.
Aku mengembungkan pipi. Hasratku untuk meminum Soju harus ditahan meski di saat-saat ini aku ingin sekali minum. Jadi, aku mengunyah Tteokppeokki lagi sambil menatap Minghao yang meneguk segelas Soju hingga tandas.
"Aku sedang berpikir berbagai kemungkinan." Katanya.
"Kemungkinan?"
"Iya."
Minghao meraih beberapa butir kacang dan mengunyahnya. Selama beberapa saat hanya terdengar suara kunyahannya dan aku hanya bisa menunggu.
"Kau benar-benar tidak menyukaiku, ya?"
"Bukan tidak suka." Kataku sewot. "Di mataku kau akan selalu jadi sahabatku, Minghao."
"Kau benar-benar tidak punya perasaan kepadaku?"
Aku menggelengkan kepala. Menyodorkannya semangkuk Tteokpeokki dan menyingkirkan gelas Soju dari hadapannya. Setidaknya aku juga harus menjaga dirinya untuk tidak minum terlalu banyak. Mungkin ia memang kuat minum, tapi dia akan menyetir dan aku tidak bisa menggantikannya.
"Baiklah." Katanya sambil mengambil satu rice cake. Ia mengunyah dengan santai meski aku tahu bola matanya bergetar tanda ia sedang tidak tenang.
"Aku nggak bisa maksa kamu untuk suka sama aku. Itu benar." Kata Minghao lagi. Ia menuang Soju ke dalam gelasnya, lalu meringis saat cairan itu membakar tenggorokannya. "Jadi, aku harus bagaimana?"
"Aku tidak tahu."
Minghao menghirup oksigen di sekitarnya lama sekali, lalu merangut karena rasa dingin menusuk hidung. "Kalau saja kau tidak datang ke studio seni rupa."
"Kalau saja aku tidak bertemu Mingyu sialan itu."
"Hahahahaha... sialan..." Minghao tertawa dan aku juga tidak bisa menahan senyum. Kalau saja aku tidak bertemu dengan Mingyu, keadaan mungkin bisa jadi lebih baik sekarang.
"Aku sebenarnya tidak pernah ingin mengungkapkan perasaanku, Sooah." Katanya menuang Soju ke dalam gelasnya lagi. Sebelum ia menegaknya, aku segera meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Minghao nyengir.
"Tapi kau sudah terlanjur melihat lukisanku."
"Dan aku sebenarnya sudah tahu dari Kak Seungcheol, dari sketch book-mu."
"Sudah ku duga." Minghao tertawa lirih.
"Sorry."
"It's okay." Katanya menegak Soju kesekian kalinya. Di atas meja kami sudah ada 3 botol Soju yang kosong dan semuanya ditandaskan oleh Minghao. Aku jadi makin khawatir, takut ia tak sadarkan diri kalau memesan satu botol Soju lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Singing Stars [Complete]
FanfictionSeorang mahasiswi yang ingin menjadi Penulis Naskah Pertunjukan mengalami hari mengejutkan saat sahabat-sahabatnya mengaku menyimpan hati kepadanya.
![Singing Stars [Complete]](https://img.wattpad.com/cover/246088148-64-k269674.jpg)