Aku menatap Seokmin dengan intens, tatapanku menghujamnya bagai detektif yang sedang menginterogasi seorang pelaku. Aku memang sedang menginterogasinya. Pulang menemaninya di akademi aku langsung bertanya soal Kak Jeonghan yang dilaporkannya kepada Kak Soonyoung. Pantas saja beberapa waktu yang lalu Kak Jeonghan sedikit ngambek, mengaku kalau ia tidak pernah bermaksud buruk kepadaku. Tapi kalau diingat lagi soal sikapnya, aku masih kesal. Kak Jeonghan mungkin tidak bermaksud menyudutkanku, tapi kata-katanya mampu menghunus motivasi dan tekad yang dulu ku punya.
"Kenapa kau lapor ke Kak Soonyoung?" Tanyaku sekali lagi.
Seokmin menelan ludah. Ia menggaruk tengkuknya. "Aku tidak melapor."
"Terus?"
"Awalnya aku cuma cerita kalau kau tidak mau lagi dekat denganku karena rasa insecure-mu itu... terus... merembet cerita soal Kak Jeonghan." Jelas Seokmin dengan takut, ia menunduk, enggan menatapku yang gemas dengan pengakuannya itu.
"Pantas saja Kak Jeonghan begitu padaku."
"Memangnya dia kenapa?"
Kedua bola mata Seokmin melebar, kini ia menatapku penuh tanya. Aku hampir saja ingin bercerita soal Eunha, tapi segera ku gigit lidahku agar tidak membuat drama baru. Biarkan itu menjadi rahasiaku bersama Kak Jeonghan dan Tuhan.
"Dia hanya mengucapkanku selamat dan... minta maaf."
"Baguslah. Memang ia harus begitu."
Sejujurnya aku merasa kaget melihat sikap Seokmin yang tampak lebih concern. Biasanya ia tidak pernah mempermasalahkan Kak Jeonghan, selalu bersikap clueless, bahkan aku sering merasa kesal karena sikap bodohnya itu.
"Aku pikir kau tidak pernah kesal dengan Kak Jeonghan?"
"Memang."
"Lah?"
"Aku tidak pernah kesal dengannya, Sooah. Selama ini aku bersikap masa bodoh karena menurutku orang seperti dia tidak perlu didengar."
Aku terperangah sampai mulutku terbuka lebar. Detik berikutnya aku menepuk tangan, tidak peduli dengan keributan yang ku ciptakan di dalam bus yang tengah berjalan menuju kawasan rumahku. "Kau benar Lee Seokmin?" Tanyaku retoris.
"Makanya kau harus berhenti mendengar kata-kata orang, Sooah. Minghao selalu berkata seperti itu, kan?"
"Hm... ya."
Mengingat Minghao, aku jadi makin khawatir. Anak itu makin menjauh dan aku pun enggan memulai pembicaraan.
"Aku bukannya tidak peduli atau clueless, Sooah. Selama ini Minghao sudah sering menasihatimu, dia yang selalu membelamu di depan orang-orang. Dan aku... biarkan aku jadi orang yang menghiburmu dengan hal lain. Kalau aku bersikap seperti Minghao, kau nanti makin kepikiran dengan kata orang."
Aku menahan napas daritadi. Penjelasannya membuat hatiku mencelus. Seokmin benar. Selama ini sikapnya menjadi sumber tawaku. Keajaiban Seokmin yang bisa membuatku lupa dengan ucapan minus orang tentang diriku.
"Bukannya aku tidak mau melindungimu seperti Minghao. Tapi aku hanya ingin kau fokus dengan kebahagiaanmu, Sooah. Aku ingin kau terus tertawa... aku ingin semangatmu kembali seperti aku mengenalmu pertama kali."
Entah karena aku yang terlalu sensitif atau terlalu kaget mendengar pernyataannya, pada saat itu juga aku memeluk Seokmin dengan erat. Dadaku sedikit sesak tapi aku tidak ingin menangis. Aku hanya tersentuh dengan apa yang sudah dilakukan Seokmin padaku.
"Terima kasih, Seokmin." Ucapku tulus.
Seokmin terkekeh, salah satu tangannya mengusap rambutku lembut. "Jadi mulai sekarang kau harus pede, ya?"
Aku mengangguk, berniat melepas pelukan tapi Seokmin malah makin mengeratkannya. Ia menyandarkan pipinya di puncak kepalaku. Berbisik kecil. "Sebentar saja, Sooah. Sebentar saja."
~~~
Seokmin tersenyum penuh sambil berjalan mundur. Daritadi ia menatapku, seakan tidak ingin membiarkan satu detik pun terbuang tanpa melihat wajahku. Aku yang frustasi. Selain malu dan mencoba menenangkan degup jantung yang rasanya ingin meledak, daritadi aku harus memastikan Seokmin tidak menabrak orang atau objek yang ada di jalan. Menyusahkan memang.
"Seokmin! Jalan yang benar!"
Pria itu menggeleng. "Nggak mau."
"Yaa! Di belakangmu ada tempat sampah!" Seruku kesal dan dengan cepat Seokmin menghindar. Ia masih berjalan mundur, terkekeh karena berhasil menghalau rintangan.
"Kau kenapa, sih?"
"Melihatmu."
Darah di sekujur tubuhku mengalir deras ke arah wajah. Panas sekali. Pasti sekarang mukaku sudah memerah. Kenapa mudah sekali bagi Seokmin mengucapkan hal seperti itu!? Mengapa aku jadi deg-degan pula!?
"Seokmin..." aku memelas, menghentikan langkah. Sebentar lagi kami akan sampai di rumah dan aku tidak mau ia begitu terus.
"Maaf... maaf..."
Akhirnya! Akhirnya Seokmin berhenti juga. Ia menghampiriku. Menarik tanganku untuk ikut berlari dengannya. Sial. Dia tidak berhenti.
"Seokmin!!!" Pekikku menahan tawa. Seokmin terus berlari, bahkan melewati rumahku.
Tangannya menggenggamku erat sekali. Kami melewati beberapa blok perumahan dan aku sudah pasrah karena kalau aku berteriak, selain suaraku habis, bisa-bisa tetanggaku akan keluar dari rumah dan memarahiku yang ribut.
"Sooah!" Seokmin memekik. "SARANGHAE!!"
GILA. LEE SEOKMIN GILA!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.