Bab 76. hapus

1.4K 224 5
                                        


Perlahan semua nya kembali, cahaya mulai menyusup melalui jendela. Aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi. Berada di ruang asing sekali lagi. Sial. Ini aneh, sangat aneh. Tempat ini sangat familiar bagi ku, hanya lebih terang, biasanya ruangan ini gelap. Aku harus bergerak.

Wait...

Tangan ku jadi kecil?

Entar, ini kerjaan Mentari, Pasti!

Padahal aku sudah menolak permintaan nya. aku yakin akan hal itu!

"au.."

...

Ok, jadi sekarang aku berada dalam tubuh bayi, tidak di ragukan lagi. entah apa rencana Mentari, aku...arghhhh.... gila tu orang.

Dari jauh aku dapat mendengar langkah kaki yang berlari ke sini.

"Sayang, kau tidak apa pa?" dengan lembut dia menimang ku. aku terdiam. Sesekali dia mengecup kening ku. terlihat khawatir akan diriku yang masih bayi ini.

"apa ada sesuatu yang membuat mu takut? Atau kau lapar?" ucapnya sesekali melihat ke jam dinding.

"Ayah mu, akan pulang sebentar lagi, kurasa dia tidak masalah akan putri nya makan lebih dulu daripada dirinya? kau lapar ini bukan?" senyumnya.

Aku berusaha menolak asi.

"kau tidak lapar?" tanya nya.

Dia pun mengendong ku, sampai ke pintu. Tentu saja aku kaget dengan orang yang muncul dari pintu itu.

"Putri ayah sudah bangun? Biasanya masih tidur" ujar nya sambil mencubit gemes pipi ku.

Dengan galak Ibu memukul tangan ayah. "Cuci tangan dulu!" Ketus nya.

"Aku tahu" ujar Ayah mengecup kening Ibu. Semburat merah muncul di pipi Ibu. Senyum nya semakin besar.

Ah, ini pasti mimpi atau ilusi. Maksud ku, hellooo? Sejak kapan ibu gue yang galak dan ya gitulah menjadi orang manis dan lembut kek gini? Lalu ayah ku kan masih di dalam novel. Ya nggak mungkin lah dia di dunia nyata. Apa yang di lakukan Mentari?, sudah jelas aku menolak semua tawaran nya.

Kami bertiga, aku di gendongan ibu, duduk di ruang makan. Rumah ini sama dengan rumah yang ibu punya tempat aku, Wahyu dan yang lain lahir.

"Mood mu buruk sekali" ujar Ayah berhenti menguyah ayam kecap, "Barang apa saja yang sudah kau banting?" lanjut Ayah tanpa merasa bersalah.

"entahlah, kurasa aku sudah menghancurkan koleksi kue yang ada di kulkas khusu itu" jawab Ibu ketus.

Dengan mulut terganga, ayah langsung berlari ke kulkas khusus itu. memeriksa kue apa saja yang mungkih hancur. Setelah mengetahui kue nya masih aman, bernafas lega. Ibu berjalan mengikuti ayah dan berkata, "masih belum hancur, lebih baik aku hancurkan saja sekarang"

Ayah yang takut, langsung memeluk ibu. "jadi apa yang terjadi?" tanya Ayah.

Ibu menyerahkan diriku ke Ayah. Sambil mengendongku Ayah menatap Ibu dengan bingung. Ibu melakukan peregangan tangan. Ayah menelan ludah nya, takut gerakan Ibu.

"Tunggu dulu, apa yang terjadi?" ujar Ayah bingung.

"Mengurangi jatah diabetes untuk bulan ini, apalagi?" ujar Ibu yang sudah selesai pemanasan.

Perut ku berbunyi. Aku lapar. Cacing cacing sialan emang. Ayah dan Ibu berhenti. Seakan mengerti apa yang terjadi ayah mengangguk ngangguk.

"Trisha, kamu nakal lagi" ujar Ayah.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang