Bab 77. botol

1.3K 219 2
                                        

Waktu, aku tidak mau tahu lagi. semakin banyak waktu terbuang di sini, entahlah. Setidaknya aku sudah di bebaskan untuk berjalan di sekitar halaman. Pintu pagar di tutup. Aku ketahuan pas mau kabur. Awalnya pagar hanya hiasan, sekarang menjadi benteng pertahanan yang menyebalkan. dulu pagarnya yang terbuat dari kayu putih tidak rapat, sekarang menjadi besi hitam yang tinggi nya melebihi tinggi ku. tidak ada yang bisa ku lihat dari sini.

"Trishaaa" panggil Ibu, berjalan sembari membawa makanan. Di suapnya diriku. Aku hanya bisa menunduk lesu. Seakan dia mengerti diriku, dia mengelus kepala ku, "sayang, besok kita ke taman, bagaimana?" ujar nya.

"Bowleh" ucap ku, tersenyum.

"Bagus, kalau begitu Trisha harus makan sampai habis, okay?"

Aku mengangguk.

Halaman kami memiliki banyak tanaman, bukan tanpa alasan, karena sekarang lagi jaman jamannya menanam, korban tren ini adalah ayah. Aku hanya bisa tersenyum saat melihat piring berterbangan, ayah benar benar tidak kapok. Temperament ibu saat marah, sebelas duabelas dengan ibu marah di dunia nyata. Jika aku membandingkannya, tentu ibu dunia nyata lebih seram. Setidaknya ibu disini perhatian saat ayah tergores atas piring kaca itu. sedangkan diriku, hanya adik ku yang perhatian, mereka sangat kecil saat itu, mereka meniup niup luka ku atau menjilatnya hahaha, lucu apalagi Wahyu langsung melepeh darah itu, aku tertawa, sambil mengacak ngacak rambut nya, lalu dia ngambek.

Aku ingin keluar.

Kata kata itu selalu menyadarkanku bahwa aku masih di dalam buku.

Selesai menyuapi ku, biasanya ibu akan lanjut membaca buku di halaman, mengawasi ku. sedangkan diriku melihat tanaman tanaman yang di beli ayah, tak jarang aku menjatuhkan beberapa pot. Ayah tidak bisa marah kepada diriku, karena ibu akan langsung memarahi ayahku akan koleksi 'berbahaya' nya, untung untung tidak di lempar panci. Oh, aku lupa bilang, piring kami sekarang 40 % kaca, 60% plastik, ibu lebih suka melempar kaca, karena berbunyi sekaligus melampiaskan emosi nya.

Aku hanya menoel noel daun keladi, tanaman di dunia ini bisa mirip dan persis seperti dunia ku.

"Trisha, jangan terlalu dekat dengan tanaman itu!" teriak Ibu, menatap ku, supaya aku menjauh dari tanaman koleksi ayah.

Aku pun berjalan pergi, mencari sesuatu yang bisa ku mainkan.

"Trisha, masuk!" ujar Ibu, melihat awan mendung mulai mendekat.

Aku berusaha berjalan cepat. Tanpa sengaja aku tersandung, ibu menangkap ku, "Hati hati" ujarnya langsung mengendong ku.

"Ibu, urun" ujar ku

Menoel hidung ku, "Hari ini Trisha jadi anak baik ya, temenin Ibu masak, ok?"

Aku diam sebentar, kemudian mengangguk ragu.

HACHI!

Tepung tepung berterbangan di seluruh wajah ku, ibu tertawa. Sebenarnya di bilang membantu peran ku adalah membuat berantakan. Ibu mendekat mengelap wajah ku dengan celemek, bukannya bersih malah ada olesan mentega. Ibu ku makin tertawa keras.

Sambil mencubit pipi ku, ibu berkata,"Bagaimana bisa kamu selucu ini?"

HACHI!

Sekarang wajah ibu ikutan terkena tepung, wajah ku sudah cocok jadi Loyang kue. Tinggal di panggang. Ibu tidak marah, malah dia makin tertawa. HACHI!

"Owwhhh, sepertinya Trisha harus menjauh dari tepung ini, kebetulan ayah sudah datang" ujar Ibu dengan segera memberikan diriku ke ayah.

"A-ada apa ini?" ujar Ayah yang terkejut melihat diriku yang berantakan.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang