Bab 24. Te Roto 2

3.4K 507 6
                                        

Hallo semuanya ??

Udah siap dengan New Normal?

Semua sudah terlambat. Akibat kesalahan diriku sendiri. Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku bisa menghindari hal ini.

"Nona Diana apa kau tidak apa apa?" tanya Nanala khawatir.

Bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Padahal kami hanya bersenang senang saja.

Kami semua berjalan menyusuri tempat festival ini. Tidak ada yang aneh di festival ini. Semua tampak normal.

Kami menari, makan, dan tertawa.

Sampai semuanya tampak dengan jelas.

Apollo masih di sebelahku. Tidak seperti sekarang.

Sebuah ledakan terjadi, dan uru hara mulai membabi buta, adengan yang pernah aku baca di novel. Di sini, tepat saat itu, musuh kerajaan menyerang. 

Te Roto merupakan tempat pertama kalinya peperangan antar kerajaan.

Dan tempat pertama kalinya pemeran utama wanita memunculkan kekuatannya dan dibawa ke istana.

Tanah kelahiran pemeran utama wanita, Te Roto.

Sekarang bukan itu yang penting, tapi perang ini. Aku harus membawa Apollo kembali.

Banyak jatuhnya korban jiwa, aku tidak bisa fokus karena mendengar semua suara tangisan dan keputusasaan.

Bangunan yang berdiri kokoh sekarang sudah menjadi puing piung. Jalan yang warna warni sekarang menjadi lautan api.

Apollo menghilang sebelum terjadinya uru hara. Aku masih bisa merasakan sihirnya. Dia pasti di dekat sini.

Pikiran ku kacau, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mencoba menenangkan diriku, tapi suara tembakan yang mengelenggar membuat diriku semakin kalut.

Nanala juga terlihat khawatir, Zero juga. Semuanya seperti benang kusut. Aku tidak tahu harus berbuat apa dahulu.

"AWASSS!!!" teriak seseorang.

Sebuah bola api raksasa melesat menuju tempat ku. Nanala dan Zero menyeretku menjauh dari tempat itu, tapi mereka berdua terluka parah.

"Nona Diana apa kau tidak apa apa?" tanya Nanala Khawatir.

Ada luka di punggung Nanala, karena dia melindungi ku. "Zero, sebaiknya kita pergi dari tempat ini" ujar Nanala, diangguki oleh Zero.

Zero berubah menjadi serigala yang cukup besar bagi kami berdua.

"Nona Diana, naiklah" ujar Nanala.

Aku menggeleng. Aku tidak mau.

"Zero, bawalah Nanala ketempat yang lebih aman"

"Tapi Nona!" ujar Zero tidak setuju.

"Aku mohon"

"Nona Diana, ini bukan waktunya untuk bersikap seperti ini, bagaimana jika kau-"

"Aku bisa teleportasi, dan menggunakan sihirku lebih baik daripada kalian"

Aku mengeluarkan sihir teleportasi ku dan mengirim Zero dan Nanala tempat yang aman.

Aku tidak bisa mengirim mereka langsung ke tempat ayah dan ibu. Tapi aku mengirim mereka ke sebuah desa yang pernah aku singgahi.

Aku dapat melihat wajah mereka berdua yang tidak sependapat dengan diriku. Aku mungkin akan menghadapi sesuatu yang sulit. Setidaknya aku harus membawa Apollo pulang dengan selamat.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang