Hidup ini serasa melalang buana, Kak Gill selalu mengawasi, dimana pun dan kapanpun.
Sekarang WC adalah tempat teraman dari tatapan mata Kak Gill.
Aku masih memikirkan ah, ralat, mengingat maksudnya.
Wabah apa ya? Aku lupa. Seandainya ada clue gitu.
Aku duduk di WC, sembari mengigit jariku, tanpa terasa bahwa sudah ada darah.
Tok tok toktok..
Gedoran pintu WC dengan kuat dan mengebu ngebu. Aku yang sadar akan hal itu membuka pintu nya, aku melihat tatapan mata Zero.
Zero menghentikan diriku dan mengobati tanganku dengan sigap.
"Nona, tidak apa apa?"
Aku mengangguk, sedikit perih akan obat yang di berikan.
Kak Gill datang, dia melihat tanganku yang bertambah parah. Tatapan matanya sangat tajam, seakan ingin memakanku.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Kak Gill ke Zero.
Zero ragu ragu memberikan jawaban. Aku harus turun tangan.
"Aku tidak sengaja, saat duduk di sini"
Kak Gill menatap diriku lagi, mencari kebohongan di mataku. Sayangnya aku dengan cepat membuat mataku sendu, jadi tidak nampak. Aku harap.
Kak Gill mengganti Zero yang mengobati ku. Dengan telaten dia menggulung perban di jari jari ku.
Dia menghela nafas, saat melihat luka jariku bertambah satu. Kemudian dia duduk di sebelahku, mengangkat diriku duduk di pangkuannya, membenamkan kepalaku di dadanya, sesekali mengelus rambutku.
Aku mencoba mencuri pandang ke Kak Gill, tiap curi pandang yang ada dia senyum nggak jelas. Aneh. Apa dia mau bunuh gue? Merinding gue mikirin nya.
Tanpa sadar, aku tertidur di pangkuannya.
Saat waktunya aku bangun, sudah waktunya makan malam. Kak Gill menyuapiku lagi.
Setelah itu aku mengajarkan Kak Gill sihir. Walau sihir aku di segel, aku masih bisa mengajarkannya, cukup berbahaya memang, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah berjanji.
Saat waktunya tidur dia memelukku, dan membenamkan kepala ku lagi di bidang dadanya yang rata itu.
Aku mencoba membebaskan diri, tapi selalu kalah. Seandainya sihir aku tidak di segel ayah, sudah aku kirim Kak Gill ke Te Roto, biarin ketemu ama pasukan yang banyak itu, yang penting dia tidak memelukku seperti sekarang ini.
"Diana, tidur" ujarnya, melihat diri ku lagi menggeliat bagai ulat bulu.
Aku hanya bisa cemberut.
Kak Gill tersenyum akan hal itu, emang ni orang pengen aku kirim ke Te Roto, jauh dari tanah kekuasaan ayah dan ibu.
Dia sering mencubit hidungku, padahal aku udah bilang jangan di cubit, karena nanti hidung aku bisa jadi pesek.
Ehhh, dia malah ketawa. Kan rese.
"tidur, Diana" ujar Kak Gill sambil mengelus rambutku.
Teknik itu selalu sukses membuatku tertidur di bidang dadanya.
Tiap kepalaku menyentuh dada Kak Gill, aku seolah olah dapat melihat otot otot di balik bajunya.
Aroma citrus yang segar di balik bajunya, ciri khas nya Kak Gill. Entah karena aku sensitif atau aku kurang kerjaan, sampai sampai aku mengetahui aroma tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue ? Antagonis?! ✅
Fantasíasaat gue terbangun gue berada di tubuh seseorang, dan orang itu adalah Tiara Von Helder!!! seorang pemeran Antagonis plus cabe cabean dalam Novel yang berjudul "Jatuh Cintalah Padaku! " dan parahnya ending dari Novel tersebut dia di hukum PANCUNG...
