Bab 33. Sakit

3K 439 20
                                        

Di dalam sini sangat dingin, Zero tidak sadarkan diri. Aku memeluk Zero. Tubuh Zero terdapat luka luka.

Aku harap segel yang di beri ayah rusak!

Setidaknya dengan begitu aku bisa kabur dan menyembuhkan Zero.

Entah sudah berapa lama aku berada di dalam ruangan ini, udah gelap, dingin, kotor, nggak ada makanan lagi.

Aku lapar.

Mengapa ayah meminta mereka memasukan aku disini?

Ngapa nggak di kamar aku aja?

Aku hanya bisa menghela nafas. Menunggu kapan aku bisa keluar.

Semakin lama, rasa dingin menusuk ke tulang tulang ku. Aku mengeratkan pelukan ku ke Zero untuk mencari kehangatan.

Sebuah cahaya masuk, dari pintu. Apa itu ayah?

Jujur, tempat ini sudah sangat dingin.

Langkah kaki beberapa orang, terdengar sangat banyak. Ini bukan hal yang bagus. Aku harus sadar dan berdiri.

Aku melihat siapa yang ada di depan ku. Itu bukan ayah. Melainkan para pelayan, apa mau mereka?

Tatapan mereka seperti tatapan ibu ku yang siap menyiksa ku.

Sepertinya aku akan berakhir dengan tidak bagus.

Apa yang akan mereka lakukan, dan mereka semua tersenyum!!

"Wah, wah liat dia, masih bisa berdiri" suara seorang pria, orang orang di belakang tertawa.

"Sepertinya kita harus mengajarkan dia untuk menunduk" suara seorang wanita.

"Hei, daripada berlama lama lebih baik kita lakukan saja sekarang" ujar seseorang lagi.

Mereka masih masing memilik barang bawaan tersendiri. Aku tidak tahu apa saja tapi yang jelas cambuk adalah salah satunya. Pria di depan ku sudah mengulurkan cambuk itu kepada diriku.

Crassss

Crasssss

Crassss...

Aku menghindar dengan tenaga yang tersisa.

Pria itu tidak senang "IKAT DIA!".

Aku mencoba memberontak tapi satu lawan beberapa orang?

Aku di ikat, tangan ku di atas kepala ku, sedangkan kaki ku di borgol terpisah.

"Ini akan menyenangkan" ujar salah satu orang.

Crasss....

"AAAAHHHHHH!!!" teriak ku. Mereka semua tertawa.

Ini lebih buruk daripada ibuku!

Crassss..

Crasss...

Entah sudah berapa kali aku di campuk, aku sudah tidak mampu bersuara lagi, rasanya aku sudah merusak pita suara ku sendiri. Orang orang itu tetap tertawa.

Seseorang membawa ember yang berisi air dan menyiramkannya ke diriku.

Saat air itu menyentuh kulit ku yang berdarah, rasanya terbakar, aku pun teriak kesakitan. Aku sudah tidak mampu menahan air mata ku. 

Seseorang mendongkrak wajah ku untuk melihat dirinya "Uuuu, kamu menangis? Itu perintah tuan atau ayah yang biasanya kau sebut?"

Plaakkkk

Wajahku di tampar nya.

Apa itu sungguhan? Ayah? Apa karena aku tidak menuruti permintaannya saat Zero mengigit pelayan?

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang