Hari kedua di akademi, tidak banyak pergerakan atau alur dari novel itu sendiri. Yang jelas Eri sudah bertemu dengan Ray. Itu di ceritakan oleh Hector, 'Ada gadis aneh yang mengejar Ray'.
Sihir yang dimiliki oleh Eri benar benar sangat berharga jadi akan sangat susah menolak nya, bukan berarti tidak bisa di tolak.
Aku minta Ray untuk tidak bertemu dengan diriku dalam beberapa bulan ini. Aku tidak ingin bersinggungan dengan pemeran utama wanita.
Disisi lain aku masih memikirkan soal tunangan Ray. Yang mana tunangan Ray adalah adik Tiara. Jika di dalam novel Ray memang tidak menyukai Tiara. Lalu Eri yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.
Di novel, saat pertama kali Eri bertemu dengan Ray, dan mendapatkan penolakan dari Ray yang pedas. Eri merasakan heran dengan Ray.
Emang mulut Ray sudah terlatih sejak dini.
Sedangkan Tiara di sisi lain, karena keluarga emang udah brengs*k sejak awal, jadi Tiara juga memiliki sifat yang bangs*t juga.
Di Novel tidak dijelaskan secara detail tentang Ray yang menganti nama nya menjadi 'Hector'. Tentang sebenarnya Hector yang sudah meninggal. Yang di jelaskan hanya Kakak dari 'Hector' meninggal dan 'Hector' lah yang menanggung bebannya. Jadi Eri menawarkan 'Hector' untuk bebas dari rantai rantai yang mengelilingi nya.
Tiara yang sebagai tunangan 'Hector' selalu menekan 'Hector'. Setiap 'Hector' yang mulanya berhati es mulai mencair, maka Tiara akan datang sebagai pembeku hati itu lagi. Kurasa itu cara Tiara untuk membelenggu 'Hector' disisi nya, karena dia tidak tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan cinta.
Disaat saat dia di hukum pancung pun, yang dia ingat adalah kata kata orang di pesta pergaulan kelas atas yaitu 'Siapapun yang di cintai oleh pangeran Hector adalah orang yang paling bahagia, kami sangat iri dengan mu Nona Helder' Tiara pun mengeluarkan air mata nya saat mengingat kata kata itu.
Tiara juga mengingat saat di pesta itu 'Hector' memberi nya bunga mawar merah, yang menjadi favorit nya sejak itu.
Tapi kalau aku ingat ingat, Ray hanya memberi hadiah hanya untuk kesopanan saja. Aku yakin juga hal itu sama dengan mawar itu.
Aku sesekali menghembuskan nafas, Ray adalah musuh utama ah bukan, Ray adalah sang pengambil nyawa yang seharusnya aku takuti. Tapi aku sudah selamati Hector jadi kurasa seharusnya aku bisa menghindar hal itu.
"Pe-permisi"
Aku menoleh ke suara itu. Rambut kuning gelombang dengan mata biru safir. Eri.
"Di sebelah mu belum ada orang kan?"
"Ah- Iya" ujar ku.
Eri tersenyum. Senyumnya membuat silau mata ku. Dia pun duduk di sebelah ku.
Sial, kok bisa sih aku sekelas ama Eri. Ada 4 kelas dan aku bisa sekelas dengan Eri??? Keajaiban apa ini?
"Nama ku Eri Miller" ujar Eri berniat bersalaman dengan diriku.
Aku menggenggam tangan itu,"Panggil saja Diana"
Eri tersenyum lagi, "Panggil aku Eri juga"
Aku mengangguk.
Sialan! Ada cara buat melarikan diri dari situasi yang jelek ini nggak? Niatan mau jauhin dia eh, muncul disini pas di sebelah lagi. Ya ampunnnn.
"Wah, Nona Ruby disini!!" teriakan gadi gadis di pintu.
Nah, tambah lagi masalah aku. Ngapa adek Tiara pada masuk ke kelas ini juga?
Ruby melangkah mendekati meja Eri. Dia menatap Eri dengan senyuman, "Kau tidak keberatan jika aku duduk disini bukan?" menunjuk meja di depan Eri.
Eri mengangguk, tersenyum "Tentu!"
Mati! Ini udah perang, aku mah ngeluarin bendera putih. Semua salah Ray. Liat ni Ray, tunangan kau sudah disini!
Ruby duduk di depan Eri. Setelah itu bel masuk berbunyi. Ibu Guru mulai menjelaskan beberapa hal sederhana. Selama pelajaran, mereka semua mendengar guru. Lalu saat bel istirahat berbunyi,"Diana, apa kamu mau ikut ke cafetaria?" ajak Eri.
Aku menggeleng, "Aku mau ke perpustakaan, mungkin lain kali."
"Kalau begitu aku ikut juga ke perpustakaan"
Astagaaaaaa, buat apaaa??? Nggak usah ikut gue bisa nggak? Jantung gue butuh istirahat.
"Kalau begitu saya juga ikut" ujar Ruby, "Kalian tidak keberatan bukan?"
SANGAT! SANGAT KEBERATANNN!!!
"Tentu tidak, lebih banyak lebih seru!" ujar Eri bahagia
Aku menangis dalam diam.
Kami bertiga berjalan ke perpustakaan.
"Jadi, Diana kamu mau baca apa di perpustakaan?" tanya Eri.
Aku nggak bisa bilang aku mau bolos kan?
"Beberapa cerita rakyat" ujarku.
Eri mengangguk, "Kamu suka cerita apa?"
"Petualang dan si gadis penjelajah?" ujarku, hanya cerita rakyat itu doang yang ku tahu.
"Bukannya cerita itu sangat sedih?" tanya Eri.
"Kurasa itu realistis, jika gadis petualang tidak pergi, maka akan terjadi peperangan, akan banyak nyawa yang hilang" ujar Ruby.
"Ta-tapi, tidakkah kau kasihan dengan mereka berdua, padahal gadis penjelajah mau melahirkan anak mereka, tapi dia harus pergi, itu kan sedih" ujar Eri.
"Lebih baik daripada ribuan orang yang kehilangan anggota keluarga mereka, bukan?" ujar Ruby.
Aku hanya bisa melirik kiri kanan. Tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Pangeran Ray..." gumam Ruby.
Aku langsung mengikuti arah mata Ruby. Biang kerok dari kedua hal ini datang, dia berjalan dengan santai.
Aku langsung menatap sinis ke Ray. Mulanya Ray tidak mengerti tapi akhirnya dia memutar jalan.
Karena Ray memutar jalan, Ruby dan Eri mengejar nya.
Sapu tangan Eri di tangan Ray, sapu tangan yang menjadi peninggalan ibu nya saat di Te Roto.
Lalu diriku? Back to plan B! Bolosss!!!
Yuhuuuu!!!!
Aku langsung berjalan memutar ke taman belakang akademi. Taman rahasia yang akan di temukan Ray saat di pesta dansa musim dingin.
Cara membuka pintu nya itu adalah menginjak balok di samping pohon.
Yay! Aku benar!
Taman belakang yang masih rahasia ini adalah tempat yang bagus. Ada kolam kecil yang berisi ikan ikan dengan pohon pohon willow yang rindang.
Beberapa bunga tampak mekar dengan segar.
Benar benar surga.
Aku memilih berbaring di pohon willow yang daunnya sudah menjalar ke bawah. Sekalian bersembunyi.
Burung burung berkicau dengan riang. Suara gemericik air saat ikan berenang. Angin yang berjalan dengan santainya. Memang tempat terbaik.
Untung baca Novel nya duluan jadi aku tahu beberapa spot khusus buat bolos.
Entah berapa lama aku tertidur yang jelas saat aku membuka mata semua sudah gelap.
[Glow]
Aku dengan secepat mungkin mulai mengambil barang barang ku di ruang kelas.
Saat aku berjalan ke gerbang, Kak Gill menatap ku dengan tatapan menyelidik.
"Baru hari kedua dan kau sudah pergi?"
Aku menunduk, "Maaf, tolong jangan bilang ke ayah dan ibu"
Kak Gill tersenyum, " kau harus membayarnya malam ini" lalu berjalan pergi.
Aku hanya bisa pasrah. Malam ini aku tidak bisa tidur karena bayarannya itu, nulisin kerjaan Kak Gill! Itu kerjaan banyak amat sih!
Bersambung..
Tertanda Tara Myria🌷
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue ? Antagonis?! ✅
Fantasysaat gue terbangun gue berada di tubuh seseorang, dan orang itu adalah Tiara Von Helder!!! seorang pemeran Antagonis plus cabe cabean dalam Novel yang berjudul "Jatuh Cintalah Padaku! " dan parahnya ending dari Novel tersebut dia di hukum PANCUNG...
