Bab 44. ular apa cacing?

2.7K 425 3
                                        

Aku mengubah posisi tidurku, serasa ada yang ngasak-ngrusuk di sebelahku. Ku buka mataku. Oh, Hector, kukira sia- pa?

"Mengapa kau disini?" tanya ku, langsung bangun ke Hector yang berbaring di samping ku.

Hector tersenyum tanpa dosa, "mengerjai mu"

Ha?

Aku melihat di tangan Hector ada bulu ayam.

"HECTORRRR!!!" teriak ku kesal.

Hector tertawa terbahak bahak.

Aku langsung turun memandangi cermin, sudah ku duga dia coret wajah ku. Untung aku belum mandi.

"Sudah cukup tertawa nya?" ujar ku cemberut.

Hector berusaha menahan tawa nya tapi saat melihat ke wajahku dia, kembali tertawa.

"Nona" Zero baru masuk, kaget melihat wajah ku. Dengan sigap dia menyiapkan air cuci muka.

Aku mulai membersihkan wajah ku. Hector tetap tertawa.

Selesai membersihkan wajah, aku menendang Hector keluar dengan lembut. Soalnya pengawalnya di depan pintu.

Aku pun menganti baju, aku ke rumah kaca. Mengambil daun Dimpuff untuk Hector dan menyerahkannya ke Ray.

Waktu terus berjalan, aku melakukan aktifitas ku seperti biasa kecuali hubungan ku dengan Kak Gill, Aku tidak cukup berani untuk dekat dengan Kak Gill dan Kak Gill juga tidak mencoba untuk mendekati. Kurasa aku masih perlu waktu.

Perapian portable yang aku perlukan juga sudah di operasikan dengan lancar. Sekarang sudah musim salju. Kelahiran calon adik ku tinggal menghitung hari. Ayah sudah menyiapkan segala hal yang di perlukan.

Kondisi Hector semakin memburuk, pada awal masuk musim gugur saja tubuhnya sudah sedingin es, sekarang Hector hanya berbaring. Ray selalu berada di dekat Hector.

Aku masih menunggu [burning flower] untuk mekar. Bahan bahan lainnya sudah aku jadikan ramuan yang siap di gunakan saat bunga itu mekar.

Jendela kamar ku saja sudah membeku di luarnya. Saat aku menghembuskan nafas itu terlihat seperti uap. Aku mencoba untuk relaks tapi itu tidak bisa. Aku sungguh berjaga jaga menunggu [burning flower] mekar. Katanya sih, itu adalah bunga terakhir yang ada di kerajaan ini. Kuharap bunga itu cepat mekar. Kondisi Hector sudah parah, tapi Ray selalu bilang bunga itu belum mekar.

Haaa.....

Aku hanya berjalan dari ujung rumah ke pojok rumah. Tidak di biarkan diriku untuk keluar. Bahkan untuk ke rumah kaca aku harus di temanin.

Salju masih blm turun. Padahal sudah musimnya. Aku tidak punya alasan untuk pergi keluar. Sesekali aku kamar Ibu tapi tidak bisa lama. Aku merasa kamar ibu berubah menjadi penjara. Banyak sekali penjaga yang di tugaskan di situ.

Aku masih belum mendapatkan kabar dari Apollo, bukannya dia setidaknya mengirimkan surat kalau dia di didik luar wilayah.

"Nona, lebih baik kita ke ruang perapian, tidak baik untuk kesehatan mu jika hanya memandang jendela" ujar Zero.

Aku mengangguk. Musim dingin memang dingin.

Tidak ada yang berlalu lalang hari ini. Sepi bagai pohon tak berdaun. Aku hanya bisa pasrah. Semuanya sedang sibuk untuk 2 masalah dalam musim ini.

Aku duduk di ruang perapian, Zero memberiku selimut.

Bahkan ruangan ini sepi. Selama ini yang masuk ke sini hanya, diriku. Tidak ada ayah, Ray atau Kak Gill. Mereka pasti sibuk.

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang