Sesuai dengan perkataan aku yang sebelumnya, aku mulai menceritakan beberapa hal dengan Apollo.
Kecuali bagian aku yang tiba tiba di dalam tubuh Tiara. Aku rasa lebih baik di rahasiakan.
Ya... Responnya sih, nggak percaya. Mau bagaimana lagi, aku sudah berbicara sesuai dengan apa yang aku tahu.
"Kakak demam?" ujar Apollo selesai mendengarkan kisahku.
Tentunya aku cemberut, lalu aku tidur, menghiraukan Apollo.
Tidur memang yang terbaik.
Tak terasa aku mulai terbiasa dengan kamar gelap gulita ini.
Aku merasakan seseorang menarik tangan ku.
"Tunggu" seru ku.
Aku hanya mendengar suara tertawa geli.
Perlahan lahan muncullah cahaya. Sangat silau.
Aku melihat tangan aku yang di tarik tadi. Rupanya Emerald yang menariknya.
"Emerald!" ujar ku cemberut.
Emerald berhenti menarik, dia tersenyum kepadaku " Master, tempat ini sangat bagus, aku tidak menyangka kau selalu berada di sini"
" Ha? "
Tempat ini memang indah eh, maksud aku bagus, dengan bunga bunga yang warna warni dan pohon besar yang seperti pusat di tempat ini atau taman ini. Tapi aku yakin kata 'bagus' dalam kata Emerald bukan ini.
Tapi bukannya menjawab pertanyaan aku, malah dia tersenyum, melepaskan tanganku, dan lari bersenang senang.
"Sepertinya dia sangat senang"
Aku kaget, rupanya gadis yang biasanya duduk di pohon itu, tumben dia muncul di belakang aku, memang cocok jadi hantu.
"Bisa nggak muncul itu bilang bilang, setidaknya ketok tanah" ujar ku.
Dia tertawa, "Maaf"
Aku hanya bisa cemberut l-a-g-i
"sepertinya suasana hati mu buruk setiap datang ke sini"
Aku menghela nafas
"Aku tidak ingin menceritakannya"
"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain di danau?"
Aku mengangguk
Air danau sangat bersih bahkan aku bisa melihat ikan dan kalau di lihat danau nya seperti dangkal, padahal dalam.
"Kau sedang memikirkan apa Tiara? "
Aku melihat gadis itu yang entah apa namanya.
"ada apa Tiara? "
"Sebenarnya aku berada dimana? Dan kau siapa? "
Dia tertawa "Ma-maaf, soalnya pertanyaan mu itu ugh-haha".
Aku hanya bisa menajamkan mataku. Apa selucu itu?
"Sekarang kita berada di dimensi lain"
Wait what?!
Aku terbelalak akan jawabannya.
"Biar aku jelaskan,
"Jadi ini adalah dimensi pikiran mu, yang menunjukan seberapa besar kemampuan mu, atau biasanya orang bilang sebagai lautan pikiran.
" Dan aku adalah teman mu, yang akan menjadi teman sejati mu" jelas gadis itu.
Ini masih bisa di terima jika dia bilang ini adalah dimensi pikiran tapi mengapa dia selalu mengatakan kalau dia akan menjadi teman sejati aku? Masa aku berteman ama imajinasi? Lama lama yang ada aku nggak waras.
Aku memengang kepala aku yang pusing memikirkan apa yang dia katakan.
Dia kemudian memengang tangan aku, " jangan khawatir, aku hanya meminjam kekuatan mu sebentar lalu nanti kita akan bertemu"
Aku masih bingung.
"Aku hanya menumpang sebentar di dimensi pikiran mu, soalnya kau banyak kekuatan sihir jadi aku meminjam sebentar, kan kita teman"
"Nona Tiaraaaa, Lihat " ujar Emerald sambil menunjuk ke atas.
Aku hampir saja lupa bernapas.
"Apa itu?" tunjuk aku.
Sebuah kuncup bunga, yang besar.
"Wah, cepat juga itu tumbuhnya, padahal aku ada menyerap sihir mu juga, "ujar gadis itu.
Aku masih tidak percaya, berapa banyak benalu yang ada di pikiran aku, apa aku terlalu negatif akan hidup ku? Jadi dimensi pikiran aku memunculkan 2 benalu?
Aku hanya bisa terjatuh tak berdaya.
"Aku sepertinya harus menyerap lebih banyak, jika tidak tubuh mu dalam bahaya"
Seketika kepala aku pusing,
Dan saat aku membuka mata, aku melihat Ibu Rose menatap aku khawatir,
"Demam mu tinggi" ujar Ibu Rose.
Aku merasakan panas di seluruh tubuhku, tubuh aku rasanya lelah, dan kepala aku pusing.
"I-ibu-
"Shhhh" ujar Ibu Rose
"Lebih baik, kamu beristirahat hari ini, dan Apollo, kamu akan tidur dengan anak anak yang lain"
Setelah itu aku mendengar suara pintu di tutup.
Sebenarnya apa yang terjadi, apa karena 2 benalu di pikiran aku? Kalau memang salah si bunga raksasa dan gadis tanpa nama itu, awas saja!
Aku mendengar suara pintu di buka, dan langkah kaki. Aku hadapkan kepala aku ke arah suara itu.
"haa, sayang sekali, kamu sakit padahal rencananya aku ingin bermain dengan mu"
Aku tidak bisa melihat dengan jelas tapi aku rasa ini adalah suara si psikopat itu.
Tiba tiba dia menarik rambut aku " wah, sakit ya? Siapa suruh dekatin Gilbert, lebih baik kau jauhi dia "
Eh?
Siapa ? Dia bukan Kak Gill?
Rambut aku di jambak lebih keras
"Kau tahu, semenjak kemarin aku melihat Gilbert di dekat mu terus, kau tahu aku kesal, Gilbert itu hanya cocoknya dengan aku, kau tahu karena apa? Karena hanya aku yang bisa menerima semua sisi dia, bukan seperti gadis kecil seperti mu! "
Aku tidak bisa apa apa, aku sungguh tidak berdaya.
Aku merasakan sakit di pergelangan tanganku
"Rasakan! Selamat mati, Diana~"
Kemudian aku mendengar suara pintu tertutup kembali.
Siapa? Bukan nya Kak Gill yang Berbahaya? Apa aku tidak menyadari bahwa ada orang yang lebih berbahaya dari Kak Gill? Tapi siapa?
Bam!
Suara pintu yang di buka
"DIANA!!"
Aku tidak tahu harus bagaimana, dia siapa? Apa yang dia mau?
"Sialan! Bagaimana dia bisa melakukan hal seperti ini? "
Aku bisa tahu kalau dia sangat khawatir dan dia mengenal orang yang mencoba membunuh ku.
"Liat saja nanti, akan aku buat lebih sengsara lagi dia,
"Diana? Kau masih hidup? "
"Si-a-pa? " ujar ku dengan lemas.
"Ini aku Gill! Untunglah kamu masih hidup, aku kira aku bakal telat,
"tunggu sebentar, minum ini! "
Aku meminum entah apa itu, aku tidak bisa merasakan rasa apapun.
Tapi makin lama aku makin susah untuk tersadar.
Siapa yang ingin aku mati? Apa waktu itu aku salah melihat? Apa waktu itu bukan Kak Gill? Aku-
Apa aku akan mati seperti ini?
Bersambung..
Tara Myria 🌷
KAMU SEDANG MEMBACA
Gue ? Antagonis?! ✅
Fantasysaat gue terbangun gue berada di tubuh seseorang, dan orang itu adalah Tiara Von Helder!!! seorang pemeran Antagonis plus cabe cabean dalam Novel yang berjudul "Jatuh Cintalah Padaku! " dan parahnya ending dari Novel tersebut dia di hukum PANCUNG...
