Bab 41. Ray si Laknat

2.8K 419 7
                                        

Beberapa hari belakangan ini, sangat susah untuk bertemu dengan ayah, dia sangat sibuk. Jika beruntung aku bisa bertemu dengan nya saat makan malam.

"Nona, Yang mulia pangeran ada di ruang tamu" ujar Zero di balik pintu.

"aku akan ke sana sebentar lagi"

Tumben tumbennya mereka ke sini, bukannya kondisi Jo cukup buruk sekarang? Apa ada sesuatu yang terjadi?

Aku bersiap diri di kamar, baju ku banyak pasir.
Kali ini aku memilih dress biru dengan renda putih. Sederhana. Ku ikat rambutku dengan pita biru juga.

Aku berjalan ke ruang tamu, kali ini Jo dan Robert atau Hector dan Ray hmmm...lebih baik aku menggunakan nama asli mereka kan?

Wajah Hector sedikit pucat, dia memaksakan diri nya untuk ke sini. Ray terlihat tidak menyukai ku. Oh ayolah, apa salahku kali ini? Seperti nya Tiara memang tidak cocok dengan Ray.

"salam-, ujar ku untuk menyapa, tapi Hector memberi tanda untuk tidak melakukannya.

Daripada basa basi, "Jadi, untuk apa kalian kemari?" ujar ku, duduk di depan mereka berdua.

"Apa kau tidak ada sopan santun?" ujar Ray tidak suka.

Hei! Yang nggak ada sopan santun itu kalian, kek jelangkung, datang tak di undang pergi tak di antar. Marah marah ke aku, salah aku apa? Aku nggak ngundang kau ke sini!

"Ray, cukup" ujar Hector memberi peringatan.

"Jadi? Kalian ke sini untuk apa? Kondisi mu cukup tidak bagus untuk keluar " ujar ku.

Semakin dekat dengan musim gugur dan dingin, maka racun itu akan semakin mudah meluncur. Rasa sakit nya pasti sangat menyeramkan.

Hector menarik nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan.

Seperti menahan sakit. Buat apa dia ke sini, kalau hanya untuk bertemu? Lebih baik dia mengistirahatkan tubuhnya, untuk bertarung dengan racun itu.

"Kata mu, kau tahu obat untuk racun ini, aku hanya ingin tahu apakah ada yang bisa ku bantu?" ujar Hector.

"Cih, racun itu tidak ada penawarnya tidak kah dokter istana sudah memberitahu, lagi pula, untuk apa kita percaya pada orang di depan kita ini?" cerca Ray.

Sungguh kesabaran ku yang mula nya secuil kotoran hidung kini bisa jadi sedalam lautan. Cukup terlatih atas mulut tajam Ray.

"terserah ucapan mu Ray, lagipula racun es hanya di temukan di dimensi arangi, jika Hector sudah terkena racun itu sejak lahir. Bukan kah itu berarti ada seseorang yang membuat Hector menjadi seperti ini? Aku hanya membantu Hector untuk sembuh, jika kau tidak percaya akan diri ku, silahkan saja, aku tidak peduli" ujarku.

"Kau-

"Ray, diamlah" ujar Hector memegang bahu Ray.

Aku menghela nafas, "aku perlu [burning flower] maka aku sudah bisa meracik penawarnya"

Aku tidak memberitahu detail penawar racun itu, karena untuk keamanan resep nya. Lagipula jika Hector terkena itu sejak lahir berarti ada kemungkinan Raja atau Ratu berniat menembus dimensi Arangi.

Berdasarkan yang ku pelajari dari Claris, dimensi Arangi adalah tempat yang paling di incar untuk menjadi orang berkuasa. Jadi banyak orang mencoba menembus pertahanan dimensi itu, sayang nya banyak yang mati. Bisa di katakan orang yang mencoba menembus pertahanan dimensi Arangi adalah orang yang tidak baik.

Dan gosip tentang Dimensi Arangi adalah jika bisa menemukan buku yang berlapis emas, maka bisa hidup abadi dan kekuatan sihir nya akan berlipat ganda. Untuk para bangsawan, dimensi Arangi itu kata kata yang cukup tabu untuk di ucapkan entah mengapa.

Buku berlapis emas, aku tidak pernah melihat hal itu, seperti nya itu hanya gosip belaka. Lagi pula menembus pertahanan dimensi Arangi sangat sulit lalu kebanyakan juga mati. Lalu siapa yang menciptakan rumor seperti itu? Hmmm...

"Soal [burning flower] aku bisa memberikannya kepada mu" ujar Hector. Itu membuat ku cukup terkejut.

Kukira itu barang langka?

"Aku tidak setuju akan hal itu" ujar Ray.

"Ray, ini keputusan ku" tegas Hector.

"Tapi, kalau kau berikan bunga itu ke dia, bagaimana dengan dirimu? Kau membutuhkan bunga itu juga"

Perseteruan kedua bersaudara sangat panas.

"aku membutuhkan bunga itu saat mekar saja" ujar ku.

"Bagus lah kalau begitu, aku akan tinggal disini" ujar Hector dengan senyumannya

"maksud mu?" cicitku, ku harap pendengaran ku salah.

Hector menanggapi ku dengan senyuman.

Mati.

....

Sekarang rumah ini sangat ramai. Pelayan dari istana sudah memonopoli kediaman ini. Seakan akan ini memang seharusnya terjadi. Para pelayan itu bolak balik dari dua kamar tamu. DUA KAMAR TAMU!

Sialan Ray juga ikutan.

Ayah dan Kak Gill juga entah kapan sudah menjadi pengurus tata ruang untuk kedua pangeran.

Aku hanya bisa memaku diri di depan kedua kamar itu. Melihat orang masuk dan keluar. Kurasa Hector memang mau menginap disini. Buktinya setelah dia mengucap hal itu, dokter, personal maid, bahkan pengawal pribadi nya juga ada! Dan barang barang nya juga sudah terbawa.

"Diana" ucap Kak Gill di sebelah ku.

"Iya?"

"Nanti malam kita harus berbicara" ujar Kak Gill sebelum sibuk kembali mengurus kamar itu.

Apa ini semua salah ku?

Dengan susah payah aku menelah ludah ku. Kesalahan apa yang aku perbuat kali ini?

Aku bisa gila.

Lebih baik aku kembali ke kamar ku.

Di balik perjalanan ku ke kamar, aku melihat beberapa dokter masuk ke rumah kaca. Dengan sigap aku berlari ke sana.

Mereka menyentuh Dimpuff dan membawa kertas dan bulu ayam. Menulis sesuatu.

"Apa yang kalian lakukan disini?" ujar ku.

Datang datang langsung main nyelonong aja.

"Maaf ini bukan tempat untuk anak anak, lebih baik kamu kembali nak" ujar salah satu mereka.

Yang nanam gue soplak!

"Siapa yang memberi ijin?" tanya ku.

"Aku, ada masalah Diana?" ujar Ray yang muncul di belakang.

"Banyak masalah! Salah sentuh semua tanaman bisa mati" ujar ku ke Ray, "minta mereka keluar atau aku kirim mereka semua ke gunung semeru biar nggak balik sekalian" ancam ku.

Ray tersenyum sinis, "tanaman nya kan dari yang aku berikan, aku punya hak"

Ok, dia masuk ke list orang yang akan ku kirim ke gunung semeru. Dasar bocil!

Tapi sihir ku sudah cukup terkuras. Otomatis aku akan mendorong mereka.

[mover shadow]

Dengan mudah aku mengendalikan orang orang untuk keluar dari rumah kaca.

"Kau!" Ray marah.

Bodo amat! Kau duluan yang cari masalah.

"Kalau kau pakai sihir api mu, otomatis, semua tanaman akan mati kebakaran" ujar ku.

"dasar anak kecil! Ini demi nyawa pangeran, kau bisa di hukum mati" ujar salah satu dari mereka.

[seal] aku memasang sihir itu di sekeliling rumah kaca, jadi tidak ada yang bisa masuk tanpa izin ku.

"Ada apa ini?" itu suara Ayah yang baru datang.

Bersambung...

Tertanda Tara Myria 🌷

Gue ? Antagonis?! ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang